Bbm

Sudah 1 Bulan Antrean Solar Masih Pajang

Kompas.com - 31/03/2011, 20:34 WIB

BANJARMASIN, KOMPAS.com — Meski sudah satu bulan, antrean panjang truk untuk mendapatkan bahan bakar jenis solar masih terjadi di hampir semua stasiun pengisian bahan bakar umum di Kota Banjarmasin dan daerah lain di sekitarnya. Kondisi ini dikeluhkan para sopir, mereka merasa waktunya banyak terbuang hanya untuk menunggu bahan bakar.

Berdasar pantauan Kompas di sejumlah SPBU, Kamis (31/3/2011), antrean panjang melebihi 30 kendaraan dan mengular hingga ke jalan. Bahkan, di SPBU Sabilal Muhtadin, antrean sempat mencapai dua lajur. Sejumlah sopir mengatakan, mereka menunggu antrean 1-2 jam, bahkan lebih sambil menunggu truk tanki pembawa solar datang .

Antrean tidak hanya terjadi di Banjarmasin. Di sepanjang jalan menuju ke Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, kondisinya sama, ujar Sabran (40) salah satu sopir yang telah 1 jam mengantre di SPBU Jalan S Parman.

Menurut Sabran yang habis mengangkut karet dirinya tidak hanya kehilangan banyak waktu, tapi juga rejeki tambahan. Biasanya, saat pulang ke Barabai, ia mengangkut barang kelontong dari pelabuhan lama. Namun, dalam sebulan terakhir hal itu silit dilakukan.

"Biasanya habis ngangkut karet saya pulang pukul 09.00 WIB. Karena mengantre, sekarang saya pulang agak sore. Akibatnya, pemilik barang kelontong pasti sudah menggunakan jasa truk lainnya yang telah tersedia," ujar Sabran yang mengaku nilai rejeki tambahan bisa mencapai Rp 500.000 dalam sehari.

Keluhan serupa disampaikan Yani (40-an) sopir travel jurusan Banjarmasin-Grogot (Kalimantan Timur). Yani banyak kehilangan waktu untuk istirahat. Biasanya, dia istirahat pukul 08.00-14.00 sebelum mengemudi lagi pada sore hari hingga pagi hari berikutnya.

"Saya terpaksa istirahat di jalan. Jika ngantuk, saya terpaksa berhenti beberapa kali dan tidur sesaat. Saya terpaksa melakukan hal ini dari pada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Untungnya, para penumpang bisa memahami," ujar Yani sembari menjelaskan jika antrean panjang seperti ini juga terjadi di jalur menuju Kaltim.

Dahran (60) dan Junaedi (35), keduanya sopir truk, menduga antrean ini terjadi akibat ulah sebagian orang yang ingin mengambil keuntungan. Mereka membeli solar dalam jumlah besar (pelangsir) untuk dijual kembali ke industri. Ini terjadi karena perbedaan harga yang mencolok. Solar bersubsidi hanya Rp 4.500 per liter, sedangkan untuk industri harganya dua kali lipat. Ironisnya, hingga sekarang hal itu seolah dibiarkan begitu saja.

Sementara itu, Ardiansyah, pengawas SPBU Masjid Sabilal Muhtadin, membantah antrean panjang ini disebabkan kurangnya pasokan solar dari Pertamina. Setiap hari pihaknya mendapat kuota 10.000 liter solar yang datang setiap pagi.

"Kami tidak memperbolehkan orang melangsir. Petugas SPBU yang ketahuan melayani pelangsir akan kami beri sanksi keras," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau