Wawancara nurdin halid (1)

Ada yang Ambisius Ingin Ambil PSSI

Kompas.com - 01/04/2011, 09:21 WIB

NURDIN HALID akhirnya menerima Kompas.com untuk wawancara, Kamis (31/3/2011) sore di kantor PT Liga Indonesia. Ketika kami masuk, dia tampak serius melihat video-video semua aksi demo dan kegiatan yang berkaitan dengan PSSI.

Sosok Nurdin Halid seperti tidak habis-habisnya diperbincangkan oleh pelaku sepak bola Tanah Air. Baru-baru ini, pria kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan, itu selalu disibukkan beradu argumen dengan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallarangeng daripada memutar otak untuk mencari solusi atas kemelut yang terjadi di lembaganya.

"Perseteruan" kedua pria yang sama-sama berasal dari Makassar itu bermula dari pembekuan PSSI oleh pemerintah. Keputusan itu diambil setelah PSSI membatalkan Kongres PSSI di Riau, Pekanbaru, Sabtu (26/3/2011).

Nurdin melawan. Ia meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencopot Andi Mallarangeng. Ia bahkan menuding Andi telah mengobok-obok lembaga yang dipimpinnya.

Oleh karena itu, Nurdin, yang sebelumnya berniat tidak ingin dicalonkan sebagai Ketua Umum PSSI lagi, akhirnya mengurungkan niatnya itu. Dia merasa wajib mengawal PSSI karena harga diri organisasi yang ia pimpin tengah dizalimi.

Kepada Kompas.com, Nurdin blak-blakan menyampaikan banyak hal. Dalam wawancara berdurasi 20 menit itu, Nurdin menyampaikan kekecewaannya kepada Andi Mallarangeng yang dinilainya terlalu membela pihak yang berseberangan dengan dirinya. Namun, tegasnya, polemik PSSI tidak ada hubungannya dengan persaingan antara Partai Golkar dan Partai Demokrat. Berikut ini hasil wawancara dengan Nurdin Halid:

Setelah "dikartu merah" oleh Menpora, apakah benar Anda masih ngotot ingin mencalonkan sebagai Ketua Umum PSSI lagi?

"Dalam perjalanan menuju Pekanbaru, saya menyampaikan insya Allah program kongres berjalan dengan baik. Ketika membuka kongres, saya akan menyatakan tidak mencalonkan diri lagi. Itu niat saya. Kemudian, pada saat itu dikatakan belum saatnya karena ketua umum punya tanggung jawab sesuai statuta sampai dengan kongres".

Sejak kapan Anda memiliki niat itu?

"Niat itu timbul karena tak ingin gara-gara saya (PSSI terus kacau), sekalipun saya tahu itu diciptakan orang yang ambisius mengambil PSSI. Istri dan ibu menyarankan kepada saya, sekalipun itu rezeki orang lain, tetapi ya sudah mengalah. Di depan FIFA, saya urungkan (menyampaikan niat tak mencalonkan diri lagi) karena dizalimi terus-menerus seperti ini."

Ada bukti penzaliman dan apakah penzaliman itu begitu terasa dan parah?

"Luar biasa! Masak mau berkongres dengan baik, kami ditekan habis, kamar digerebek, dan ada yang ditendang. Sampai saya tidak bisa ke tempat kongres karena suasana yang sangat mencekam. Ini penzaliman luar biasa."

"Nah, ini berarti saya harus mengawal kembali untuk harga diri PSSI. Bukan saya saja. Bukan Nurdin Halid. Saya melakukan sesuatu bukan untuk mempertahankan. Dari dulu, saya tidak pernah melakukan sesuatu untuk mempertahankan diri."

"Namun, PSSI tidak boleh dibuat seperti ini. Karena apa? Ini akan menjadi preseden buruk. Nanti, hal yang sama akan menimpa siapa pun, bukan hanya kepada saya. (Menimpa) siapa pun kalau kondisi ini dibiarkan."

Anda menilai langkah Menpora sebagai sebuah kesalahan?

"Kalau boleh jujur, benar enggak langkah Alfian Mallarangeng? Kalau kongres (di Pekanbaru) berjalan bagus, saya akan menyatakan (tidak mencalonkan lagi). Tapi, saya dizalimi begitu, saya tidak akan menyatakan itu. Saya akan terus mengawal PSSI ini sampai kepada kongres sesuai jati dirinya."

Seperti apa bentuk pengawalannya? 

"Saya akan mempertahankan organisasi. Masak Menpora membiarkan KPPN (Komite Penyelamat Persepakbolaan Nasional) bisa berjalan dengan alasan menyudutkan kami lagi. Menyalahkan PSSI. Sementara matanya sendiri melihat bagaimana situasi kongres. Pintu didobrak dan berteriak-teriak, seperti mau perang. Banyak orang yang bukan peserta kongres diperkenankan masuk."

Anda katanya sudah membentuk tim kuasa hukum untuk menggugat Menpora?

"Sudah. Saat ini sudah saya serahkan kepada kuasa hukum untuk mengatur langkah-langkah. Kita kan negara hukum dan demokrasi. Jadi, kita serahkan saja."

Apa yang menjadi celah dalam gugatan tersebut?

"Ini sebenarnya persoalan sederhana. Jika dia tidak suka saya, tinggal bilang sama anggota, jangan lagi memilih Nurdin Halid lagi karena saya (Andi) tidak suka. Selesai, kan? Mana bisa jadi ketua umum kalau tidak dipilih anggota. Sederhana, kan? Tapi, ini dibikin rumit, dibikin sulit, dan diobok-obok. Buktinya, Anda bisa melihat."

"Sebelum dia menjadi menteri, apakah ada persoalan seperti ini? Tidak usah jauh-jauh. Waktu Kongres di Bali, kalau kelompok Saleh Mukadar tidak di-back-up, mana bisa mereka tembus di Bali. Anda coba analisis, deh. Tetapi, karena di-back-up, makanya dia berani buat kekisruhan. Itu sebenarnya yang harus dikartumerahkan, bukan PSSI yang dikartumerahkan. Bukan saya juga. Hal itu yang membuat saya tidak bisa menerima dizalimi seperti itu. Kok di depan matanya (ada yang) melakukan pelanggaran anarkis, tidak dikartumerahkan. Kok saya yang dikartumerahkan. Anda berkata jujur, deh."

Saat ini banyak pihak yang sebelumnya pendukung Anda, seperti Manajer Persisam Putra Samarinda, Harbiansyah Hanafiah, membelot. Bagaimana pandangan Anda?

"Coba tanya dia. Pengakuan kepada teman-teman yang bertanya, dia ditekan habis. Dia bilang itu sama Haruna. Jadi mereka terpaksa. Sahabat-sahabat saya itu bukan membelot. Dia mengikuti karena terpaksa. Bagaimana orang memilih pemimpinnya dengan baik kalau dipaksa."

Sebetulnya, apakah Anda memiliki masalah pribadi dengan Andi Mallarangeng?

"Enggak ada masalah pribadi. Hanya dibuat-buat itu saja, kan!"

Masih banyak yang disampaikan Nurdin Halid seputar konflik PSSI, dari masalah politik, sikapnya di Kongres PSSI nanti, sampai pada dampak kepada keluarganya. Bahkan, anaknya sampai berkelahi gara-gara pemberitaan tentang dirinya. Ikuti lanjutan wawancara berikutnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau