tripoli, jumat
Militer dan milisi loyalis Khadafy, Jumat (1/4), merebut kembali sejumlah kota strategis dari oposisi, seperti kota minyak Ras Lanuf dan Brega. Kota Misrata dan Bin Jawad yang sempat diduduki oposisi dikuasai lagi oleh loyalis Khadafy.
Sehari sebelumnya, ketika petinggi Barat mendesaknya turun dan keluar dari Libya, Khadafy menantang mereka dan mengatakan, bukan dia yang harus pergi. Para pemimpin Barat itulah yang harus mundur.
Khadafy, yang berkuasa sejak 1 September 1969, menuding pemimpin asing menyerang pasukannya karena ”dipengaruhi kegilaan akan kekuasaan”. Menurut dia, ”solusi untuk masalah ini ialah mereka segera mengundurkan diri dan rakyatnya mencari pengganti.”
Militer Amerika Serikat juga mengakui, pasukan Khadafy masih kuat. Menteri Pertahanan AS Robert Gates dalam testimoninya di Kongres, Kamis, menjelaskan, pasukan oposisi lemah dan kurang terorganisasi, sedangkan loyalis Khadafy tetap kuat. Namun, Gates menegaskan, AS tak boleh melatih dan membantu oposisi Libya. AS juga tak boleh mencampuri urusan
Kepala Staf Gabungan AS Laksamana Mike Mullen mengatakan, Khadafy belum terkalahkan meski serangan udara koalisi berjalan hampir dua pekan. Loyalis memakai senjata superior dan memukul mundur oposisi ke Benghazi, kota utama di Libya timur, yang menjadi basis oposisi. Dengan demikian, mereka semakin jauh dari Tripoli.
Stasiun televisi Al-Jazeera melaporkan, sejumlah pejabat dan penasihat dekat Khadafy telah meninggalkan negara tersebut menuju Tunisia. Mereka mengikuti jejak Menteri Luar Negeri Libya Moussa Koussa yang lari ke London, Inggris, melalui Tunisia.
Di antara petinggi yang disebut ialah Menteri Perminyakan Shukri Ghanim. Namun, Ghanim menyatakan, dirinya masih berada di Libya dan tak berniat pergi. Pemerintah Libya juga tidak mengakui bahwa Koussa membelot dan mengatakan Koussa ke Inggris untuk misi diplomatik.