SEMARANG, KOMPAS.com — Menjadi orangtua anak autis tak pernah terbayangkan oleh Sri Murni. Namun, kenyataan itu harus dijalaninya, ketika anak keduanya, Faisal Hakim (14), dinyatakan sebagai anak autis. Dia harus bersilat otak mencari pola pendidikan dan pembelajaran yang tepat agar Faisal bisa tumbuh normal sebagaimana anak-anak lainnya.
"Masa kecilnya tidak ada masalah. Namun, mulai usia tiga tahun, kemampuan verbalnya menurun terus hingga akhirnya dia tak bisa berkomunikasi verbal dengan baik. Selain itu, dia gampang sekali marah tanpa sebab, khususnya jika mendengar suara ayam berkokok," kata Sri Murni, di rumahnya, perumahan Pondok Majapahit, Bandungrejo Mranggen, Demak.
Ungkapan "kasih ibu sepanjang jalan" memang tak ada salahnya untuk menggambarkan kegigihan Sri Murni. Hingga akhirnya dia menemukan sekolah umum yang bersedia menampung dan mendidik Faisal seperti anak-anak normal lainnya.
Setelah sekolah di Sekolah Alam Ar Ridho Semarang, pelan-pelan Faisal mulai menemukan pola komunikasi yang pas untuknya. Dan kini, Faisal tak terlihat seperti anak autis. Prestasi belajarnya juga bagus. Ia jago memainkan keyboard sehingga dia dan teman-temannya yang autis mendirikan sebuah band autis.
Bagaimana dengan Sri Murni? Ternyata, sang ibu juga mulai belajar banyak tentang autis. Hasil interaksi dan belajar bersama Faisal itu, oleh Sri Murni dituangkan dalam catatan harian. Dengan demikian, dia tahu hal-hal yang menjadi pantangan Faisal. Misalnya, susu sapi, akan membuat Faisal tak bisa tidur, terigu akan menjadikan Faisal gampang marah, dan seterusnya.
"Catatan harian itulah yang akhirnya diterbitkan menjadi sebuah buku. Disunting oleh teman saya yang novelis," kata Sri Murni.
Buku tersebut dimaksudkan untuk berbagi rasa dan sosialisasi tentang autisme. Di lingkungan tempat tinggalnya, para tetangga awalnya tidak tahu jika autis bukanlah gila.
Mereka mayoritas menganggap anak autis sama dengan gila. Ada pula yang menyebut anak autis sama dengan idiot. Itu pula yang mendorong Sri Murni secara mandiri, door to door menyosialisasikan autisme dan cara-cara penanganannya. Uang hasil penjualan bukunya itu dimanfaatkan untuk membiayai kegiatannya.
Perjalanannya dari RT ke RT hingga merambah ke luar kota, semua dilakukan dengan ikhlas dan diniatkan untuk berbagi agar anak autis tidak dianggap sebagai kutukan.
"Saya pernah benar-benar sakit hati ketika Faisal yang takut ketinggian, saya latih naik ke menara Masjid Agung. Eh, ada yang bilang kayak monyet naik menara," kata Sri Murni.
Rasa sakit hati dan tersinggung itu pula yang dijadikan energi untuk membuktikan bahwa Faisal bisa normal seperti kawan-kawannya, bahkan jauh lebih berprestasi dengan pengalaman manggung bersama band autis.
Faisal juga jago fotografi. Dengan kesadaran itu pula, pada hari autis dia sangat bersemangat bergerilya door to door, dari RT ke RT, kota ke kota, agar autisme tidak disalahkaprahi oleh masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang