BALIKPAPAN, KOMPAS.com — Ada apa di balik data-data statistik yang angka melulu itu? Ternyata cukup menarik untuk disimak. Coba kita lihat Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, misalnya, yang sepanjang Maret 2011 inflasinya 0,32 persen.
Angka inflasi di kota minyak itu didapat dari penelusuran 10 orang dari Badan Pusat Statistik (BPS) ke sejumlah tempat, yang kemudian diolah. Lokasi survei mereka adalah dua pasar tradisional dan dua supermarket. Lokasi per bulan bisa berbeda-beda.
Total ada 600 komoditas barang dan jasa yang dipantau dan dicatat harganya secara cermat. Barang dan jasa itu dipantau dalam waktu berbeda-beda. Ada yang dipantau seminggu sekali, ada yang per dua minggu, ada yang per bulan, dan ada juga yang per tiga bulan.
Yang dipantau seminggu sekali, misalnya beras, tepung terigu, daging sapi, susu kental manis, cabai, telur, tempe, gula pasir, minyak goreng, emas, dan sabun deterjen. Sementara yang dipantau dua pekan sekali, antara lain mi kering instan, cumi-cumi, sosis, ikan tongkol, bayam, nangka muda, kentang, udang basah, bawang putih, nugget ayam, dan bahan baju katun wanita.
Kemudian, yang dipantau bulanan, misalnya, susu untuk ibu hamil, gado-gado, pecel, es krim, apel, biskuit, kacang hijau, pepaya, ayam goreng, dan kopi.
Lantas, apa saja yang dipantau per tiga bulan? Ternyata ada banyak juga, misalnya ban luar motor, pembalut, sepeda anak, batu, helm, kaus kutang/singlet, busi, flashdisk, biaya ke dokter umum, televisi berwarna, jasa gunting rambut pria, hingga cuci kendaraan. Wuih....
"Kami punya 1.600 responden yang setengah tahun sekali kami tanya tentang barang apa saja yang mereka beli," kata Kepala Seksi Integrasi Pengolahan Diseminasi Statistik BPS Balikpapan Agung Nugroho.
Tentang 600 barang dan jasa yang disurvei ini, lanjut dia, bisa saja bertambah jumlahnya dari tahun ke tahun. Penentuannya berdasarkan perhitungan setidaknya uang yang dikeluarkan warga untuk barang tersebut mencapai 0,02 persen dari penghasilan. Dari item produk barang dan jasa tersebut, BPS Balikpapan memilih tiga sampai empat merek atau jenis, alias tiga sampai empat merek yang paling banyak dibeli masyarakat.
Jadi, jumlah 600 barang dan jasa ini bisa bertambah, jika memang itu yang banyak dibeli masyarakat. Kondisi di tiap daerah berbeda. "Jakarta, misalnya, komoditasnya 1.000 item, tetapi di Balikpapan 600 item," kata Agung.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang