Sambut Anas, Bendera Demokrat Dibakar

Kompas.com - 03/04/2011, 22:08 WIB

MATARAM, KOMPAS.com — Penyambutan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat Anas Urbaningrum di depan Bandara Selaparang, Mataram, Minggu (3/4/2011), dinodai ulah belasan orang kader dan simpatisan Partai Demokrat wilayah NTB dengan membakar bendera Partai Demokrat.

Aksi bakar bendera partai yang dikoordinasi Lalu Saparuddin Ali (fungsionaris DPC Partai Demokrat Lombok Tengah) itu digelar saat rombongan DPP Partai Demokrat keluar dari Bandara Selaparang, Mataram, menggunakan beberapa mobil dan melintasi Jalan Udayana, hendak menuju lokasi Musyawarah Daerah (Musda) II Partai Demokrat NTB.

Selain Anas, dalam rombongan itu ada Sekjen DPP Partai Demokrat Eddhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), yang juga putra Presiden SBY.

Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi juga ada dalam rombongan itu karena ikut menjemput rombongan DPP Partai Demokrat itu bersama Ketua DPD Partai Demokrat NTB Lalu Abdul Halik Iskandar alias Mamiq Alek.

Anas dan pengurus DPP Partai Demokrat lainnya menggunakan mobil Toyota Alphard, sementara Ibas semobil dengan Zainul Majdi di Honda Accord.

Dalam aksinya itu, belasan kader dan simpatisan Partai Demokrat NTB yang menamakan diri Koalisi Kader dan Simpatisan Partai Demokrat (KKSPD) itu juga membawa spanduk berisi sejumlah pernyataan sikap.

Pernyataan sikap itu, yakni menolak TGH M Zainul Majdi sebagai calon Ketua DPD Partai Demokrat NTB, mengutuk sikap oknum DPP Partai Demokrat yang mengatasnamakan instruksi Partai Demokrat untuk mendukung Zainul Madji.

Selain itu, mereka meminta Dewan Kehormatan (DK) DPP Partai Demokrat untuk menindak Ahmad Mubarak, Sadewa, dan Abdurrahman atas indikasi menerima suap sehingga mendukung calon dari luar partai.

KKSPD juga mendesak TGH M Zainul Madji agar lebih fokus memimpin Provinsi NTB dan menyelesaikan berbagai permasalahan, seperti tingkat kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan masyarakat yang masih rendah.

Saat berpidato pada pembukaan Musda II Partai Demokrat NTB Lalu Abdul Halik Iskandar alias Mamiq Alek menyinggung demo penolakan Zainul Majdi, disertai pembakaran bendera partai Demokrat itu.

"Tadi ada demo, sebenarnya tak ada penolakan, kami terima siapa pun yang hendak bergabung dengan Partai Demokrat," ujarnya.

Sementara itu, Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, dalam kesempatan yang sama, juga menyinggung demo itu, tetapi ia tidak mempersoalkannya.

"Tadi Mamiq Alek lihat demo itu, tapi itu tidak apa-apa, itu bagian dari demokrasi," ujarnya di hadapan seratusan peserta Musda II Partai Demokrat NTB dan tamu undangan lainnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau