Cilacap, Kompas -
Meski demikian, upaya pemadaman terus dilakukan dengan menyemprotkan air bercampur busa peredam api (
Rencana penyemprotan busa cair lewat udara dengan tujuh helikopter—terdiri dari 4 heli Pertamina, 2 heli TNI Angkatan Udara, dan 1 heli Kepolisian Daerah Jawa Tengah—hingga Minggu malam belum bisa dilakukan karena keterbatasan alat dan kondisi lokasi yang sangat rawan.
”Selang di heli hanya pendek, sedangkan untuk mendekat ke lokasi titik api sangat rawan karena banyak pipa aktif. Alternatif paling memungkinkan adalah dengan melemparkan bom busa cair ke badan-badan tangki. Tapi, butuh perhitungan cermat,” kata Istiawan, pilot helikopter dari Kepolisian Daerah Jateng.
Pengguyuran air bercampur busa sudah mencapai 78 ton atau 350 drum. ”Busa sudah dikerahkan dari semua tempat, termasuk dari Yogyakarta dan Balongan. Total yang dimobilisasi 78 ton. Akan lebih efektif jika diguyurkan ke bagian atas tangki,” ujar Direktur Pengolahan Pertamina Edi Setianto di Pusat Krisis Cilacap, Minggu (3/4), saat melaporkan perkembangan terakhir kebakaran tangki di Unit Kilang (Refinery Unit) IV Cilacap kepada Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dan Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan.
Karen menambahkan, pihaknya belum mengetahui penyebab utama kebakaran yang terjadi pada Sabtu dini hari itu. Pihaknya lebih mendahulukan pemadaman api yang sudah merembet dari tangki 31T-2 dan 31T-3 ke tangki 31T-7.
Dia menjelaskan, produksi bahan bakar minyak dari Kilang Cilacap terus berlanjut dan tidak terganggu oleh kebakaran tersebut. Stok premium untuk 33 hari dan solar untuk 40 hari ke depan di Jateng sudah tersedia. Pertamina juga menyiapkan tambahan 400.000 liter premium untuk pasokan Jateng.
Hatta Rajasa mengatakan, kedatangannya ke Cilacap untuk memastikan koordinasi pemadaman kebakaran berjalan baik. Ia menegaskan, kebakaran itu tidak akan mengganggu pasokan premium nasional.