Orang China Pembeli Properti di Singapura Naik 3 Persen

Kompas.com - 04/04/2011, 08:20 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com — Proporsi jumlah orang China daratan yang membeli properti hunian di Singapura meningkat 3 persen pada kuartal IV tahun 2010. Ini merupakan indikasi bahwa mereka menjauhkan diri dari pasar properti China yang sudah terlalu panas.

Ini juga berarti bahwa pada tahun 2010, proporsi pembeli China dalam pasar mencapai 19 persen atau naik dari 15 persen pada tahun 2009. "Mereka diharapkan melanjutkan pembelian properti di Singapura," kata Chua Chor Hoon, Kepala Riset DTZ Asia Tenggara.

Pembeli properti di Singapura dari China daratan ini diharapkan berada di antara dua kelompok pembeli asing. Ini merupakan dampak dari pertumbuhan kesejahteraan masyarakat China daratan, yang memotivasi sebagian dari mereka untuk membeli properti di luar negeri, termasuk di Singapura.

Perkembangan jumlah unit kecil dalam sejumlah proyek baru menyebabkan peningkatan jumlah unit yang ditransaksikan, masing-masing berukuran kurang dari 500 kaki persegi (46,45 meter persegi) dalam tahun 2010 dibandingkan tahun sebelumnya.

Jumlah transaksi untuk unit yang luasnya di bawah 46,45 meter persegi itu meningkat 114 persen, sedangkan jumlah transaksi unit yang luasnya antara 46,45 meter persegi dan 92,9 meter persegi (1.000 kaki persegi) meningkat 28 persen.

Pembelian oleh sejumlah perusahaan juga meningkat 4 persen pada kuartal IV-2010, tetapi naik 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Setelah pengumuman pada bulan Januari 2011 yang lebih diarahkan untuk menstabilkan pasar residensial, DTZ memprediksi bahwa pasar akan lebih tenang. DTZ menyatakan, aktivitas sub-penjualan cenderung turun pada tahun 2011 karena spekulasi jangka pendek kemungkinan berdampak pada seller's stamp duty (SSD), yang diumumkan pada Agustus 2010 dan meningkat pada Januari tahun 2011.

Pada awal tahun ini, harga properti di Singapura masih meningkat meskipun upaya pendinginan pasar telah dilakukan. Perkiraan yang dirilis Institute of Real Estate, National University of Singapore (NUS), menunjukkan, indeks harga residensial Singapura secara keseluruhan meningkat 2,6 persen bulan ke bulan pada Januari atau lebih dua kali lipat dari kenaikan satu persen pada indeks bulan Desember.

Sejumlah analis menyebutkan, tingkat suku bunga rendah dan pertumbuhan ekonomi yang kuat telah mendorong kenaikan harga apartemen. Beberapa analis lainnya mengatakan, terlalu dini menyebutkan angka-angka ini merefleksikan dampak total atas kebijakan pendinginan, sedangkan analis lainnya khawatir harga apartemen tetap meningkat dengan cepat.

Mereka mengatakan, jika volume transaksi dan harga terus naik, langkah-langkah pendinginan tidak bisa dikesampingkan. "Jika harga apartemen naik dalam kecepatan ini, tentu saja kita berpikir bahwa pemerintah harus melihatnya lebih jauh," kata Colin Tan, Kepala Riset dan Konsultasi Chesterton Suntec International.  (PropertyWire/KSP) 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau