JAKARTA, KOMPAS.com — Terdakwa kasus dugaan terorisme Abu Bakar Ba'asyir mengaku tak tahu-menahu perihal pelatihan militer di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar, termasuk dua perampokan di Medan, Sumatera Utara, yakni perampokan Bank CIMB Niaga dan Warnet Newnet.
"Saya tidak tahu-menahu perihal kegiatan yang diceritakan," ucap Ba'asyir seusai mendengarkan keterangan saksi-saksi di sidang atas dirinya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (4/4/2011).
Selama saksi memberi keterangan, Ba'asyir memilih walk out dari ruang sidang. Pernyataan Ba'asyir itu menanggapi kesaksian tiga terdakwa teroris, yakni Pamriyanto alias Suryo Saputro, Anton Sujarwo, dan Beben. Ketiganya mengaku pernah ikut pelatihan militer di Aceh bersama sekitar 30 perserta lain. Pelatihan yang mereka terima, di antaranya, bongkar pasang senjata api, menembak, dan latihan fisik.
Pamriyanto dan Beben mengaku ikut merampok Warnet Newnet dan Bank CIMB Niaga setelah pelatihan bubar pasca-kontak senjata dengan kepolisian. Saat merampok warnet pada 6 Agustus 2010, mereka mengaku hanya mendapat satu telepon seluler. Saat itu, Pamriyanto memukul kepala pemilik warnet dengan linggis ketika hendak melawan.
Dua minggu kemudian, keduanya bergabung dengan kelompok yang berbeda pimpinan Taufik untuk merampok bank. Saat itu, satu anggota tewas tertembak dan dua petugas satpam bank terluka. Mereka berhasil membawa uang sebesar Rp 340 juta. Pamriyanto dan Beben mengaku mendapat masing-masing Rp 10 juta.
Seperti diberitakan, saksi-saksi sebelumnya menyebut Ba'asyir mendanai kegiatan pelatihan militer.Dana diberikan langsung oleh Ba'asyir atau diminta Ba'asyir ke sejumlah pihak. Ba'asyir juga pernah melihat rekaman pelatihan militer dan menunjukkan rekaman kepada donatur.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang