Kubu Khadafy Usulkan Solusi Damai

Kompas.com - 05/04/2011, 03:38 WIB

Kairo, Kompas - Deputi Menlu Libya Abdelati Obeidi dijadwalkan pada Senin (4/4) menemui sejumlah pejabat Turki, membahas upaya damai di Libya. Hari Minggu lalu di Athena, Obeidi menemui PM Yunani George Papandreou. Obeidi dijadwalkan juga akan mengunjungi Malta.

Seusai bertemu Papandreou, Obeidi menegaskan, Libya menghendaki solusi politik untuk mengakhiri perang di Libya. Kementerian Luar Negeri Yunani juga menyatakan, Libya menginginkan solusi dan membutuhkan upaya serius untuk mewujudkan stabilitas serta perdamaian di kawasan.

Namun, Obeidi dan pejabat Yunani tidak menjelaskan secara terperinci format solusi damai yang diinginkan rezim Moammar Khadafy itu.

Rezim Khadafy mengusulkan upaya perdamaian itu setelah pekan lalu menolak persyaratan gencatan senjata yang diusulkan oposisi.

Dalam upaya damai yang digalang utusan khusus PBB untuk Libya, Abdul Ilah Khatib, pekan lalu, kubu oposisi menyetujui gencatan senjata jika pasukan loyalis ditarik keluar dari kota-kota di Libya barat. Khadafy juga harus memberikan ruang kebebasan berpendapat dan berbicara kepada rakyat, baik lewat unjuk rasa maupun media massa.

Mustafa Abdel Jalil, Ketua Dewan Nasional Transisi (TNC), juga meminta Khadafy menyingkirkan semua tentara bayaran dari jalan-jalan di Libya.

Juru bicara Pemerintah Libya, Moussa Ibrahim, menilai syarat yang diminta kubu oposisi itu dirasa berlebihan.

Upaya damai Obeidi itu juga disampaikan saat pasukan loyalis Khadafy dan pasukan oposisi sementara ini sama-sama tidak mampu meraih kemenangan menentukan di berbagai front pertempuran di beberapa kota di Libya.

Loyalis Khadafy dan pasukan oposisi sama-sama gagal menguasai penuh kota minyak Brega dalam pertempuran sengit selama tiga hari terakhir.

Kedua pihak yang berperang itu juga gagal menguasai penuh kota Misrata di Libya barat (200 kilometer arah timur kota Tripoli). Salah seorang juru bicara kaum revolusioner di kota Misrata, Abdel Baset Boumezrak, kepada televisi Aljazeera mengungkapkan, loyalis Khadafy hanya menguasai pintu timur dan barat kota Misrata serta bagian timur jalan Tripoli, yang merupakan jalan utama di kota itu.

Menurut Boumezrak, kaum revolusioner masih menguasai tempat strategis di kota Misrata, seperti pelabuhan dan sebagian besar jalan Tripoli yang merupakan pusat pertokoan di kota itu.

”Loyalis Khadafy dengan dibantu tank-tank bisa saja masuk jalan Tripoli atau tempat strategis lainnya di kota Misrata. Namun, mereka tidak bisa bertahan lama di tempat tersebut karena setiap saat akan mendapat serangan dari kaum revolusioner bersenjata yang menggunakan taktik perang gerilya,” tutur Boumezrak.

Kapal rumah sakit apung Turki dengan dikawal dua kapal perang dan 10 pesawat tempur F-16 Turki pada Minggu lalu merapat di pelabuhan Misrata untuk mengangkut 250 korban terluka dari warga kota itu.

Kapal rumah sakit apung Turki itu kemudian melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Benghazi, Senin dini hari, untuk mengangkut sekitar 100 korban terluka dari warga Ajdabiya akibat pertempuran ketika loyalis Khadafy memasuki kota tersebut. Para korban terluka itu akan dirawat di rumah sakit di Turki.

Seorang dokter di Misrata, Ayman, kepada stasiun televisi Aljazeera mengungkapkan, sedikitnya 240 orang tewas dan lebih dari 1.000 orang terluka selama Maret lalu akibat gempuran setiap hari oleh loyalis Khadafy terhadap kota tersebut.

Loyalis Khadafy kini juga menggempur kota-kota kecil di wilayah Gunung Barat yang terletak di arah barat daya kota Tripoli, seperti kota Zintan. Aktivis oposisi di kota Zintan, Adel Zintani, kepada stasiun televisi Aljazeera mengatakan, kota Zintan kini terus digempur dan dikepung oleh loyalis Khadafy. ”Aliran listrik, air, dan komunikasi kini terputus dari kota Zintan,” ucap Adel Zintani.

Loyalis Khadafy juga mengepung kota Yagran dan Qala’a, yang tidak jauh dari Zintan.

Musthafa Abd Rahmandari Kairo, Mesir

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau