Gubuk Liar Terbakar

Kompas.com - 05/04/2011, 04:26 WIB

Jakarta, Kompas - Dalam sehari, tiga permukiman liar di Jakarta Utara dan Jakarta Barat habis dilalap api, Senin (4/4). Kebakaran ini tidak menimbulkan korban jiwa, tetapi 270 gubuk dan lapak liar ludes terbakar serta setidaknya 750 jiwa terpaksa mengungsi.

Dua kebakaran di Jakarta Utara disebabkan korsleting listrik. Kebakaran pertama meludeskan 50 rumah semipermanen yang dibangun di pinggir rel, Kampung Bandan, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, sekitar pukul 05.30. Dalam waktu dua jam kebakaran di permukiman tersebut dapat dikendalikan.

Menurut Kepala Seksi Operasional Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Utara Nurdin Silalahi, kebakaran itu sempat mengganggu perjalanan dua kereta dari arah Rangkasbitung dan Bekasi.

”Kedua kereta itu terpaksa kami hentikan sementara untuk memudahkan pemadaman. Setelah api padam, kereta itu pun langsung melanjutkan perjalanan,” katanya.

Kebakaran kedua melalap 200 gubuk liar di Kampung Baru, kawasan Tempat Pelelangan Ikan Muara Angke, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Kebakaran ini terjadi pada pukul 13.00. Pada saat yang sama, kebakaran terjadi di Jakarta Barat yang meludeskan 20 lapak pemulung di atas lahan seluas 200 meter persegi di Jalan Pos Pengumben Lama, RT 004 RW 05, Kelurahan Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk.

Kebakaran di Kampung Bandan dan Kampung Baru juga disebabkan oleh korsleting listrik. Korsleting listrik merupakan penyebab utama kebakaran yang terjadi di Jakarta Utara.

Dugaan korsleting tersebut bisa dilihat dari adanya penggunaan jaringan listrik yang serampangan. Satu jaringan listrik di Kampung Bandan, misalnya, digunakan untuk tiga sampai lima rumah.

Bahkan, di Kampung Baru yang sebagian besar dihuni nelayan, ditemukan satu jaringan listrik yang digunakan untuk menerangi lebih dari 250 gubuk, termasuk gubuk yang ludes terbakar.

Menurut seorang warga, Ciung (35), setiap rumah dapat langsung menyalurkan listrik dari jaringan utama melalui koordinator listrik di kampung itu. Setiap rumah kemudian dibebani iuran listrik Rp 40.000 per bulan. Iuran sebesar ini hanya untuk penerangan. ”Kalau pakai televisi atau kulkas, dikenai biaya tambahan lagi dari Rp 10.000 sampai Rp 15.000 per unit,” katanya.

Kebakaran yang melalap 20 lapak tempat pengepulan barang pemulung di Jalan Pos Pengumben Lama disebabkan oleh api yang muncul dari tumpukan sampah plastik.

Menurut Kepala Seksi Operasional Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Barat Endang Choirudin, belum diketahui secara pasti penyebab munculnya api di tumpukan sampah plastik itu.

”Kemungkinan api itu muncul karena panas dari dalam tumpukan plastik yang kemudian menimbulkan api,” katanya.

(FRO/MDN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau