Harga gabah

Harga Gabah Melonjak, Bulog Ogah Beli

Kompas.com - 05/04/2011, 22:39 WIB

JEMBER, KOMPAS.com — Menjelang akhir panen raya, harga gabah di Jember, Jawa Timur, kembali melonjak sangat drastis hingga mencapai harga Rp 2.900-Rp 3.100 per kg, dan semakin jauh dari harga pembelian pemerintah sebesar Rp 2.640 per kg. Sebelumnya, meski juga masih di atas HPP, tetapi di tingkat petani hanya berkisar Rp 2.700-Rp 2.900 per kg.

Kenaikan harga gabah ini kian mempersulit perolehan atau pemenuhan target Perum Bulog Sub Divre Jember untuk mendapatkan beras dari petani atau mitra sebanyak 89.000 ton.

"Saat ini kami baru dapat sekitar 7.000 ton beras. Tim satuan tugas unit penggilingan gabah dan beras dikerahkan dan bekerja keras membeli gabah dari petani," kata Kepala Perum Bulog Sub Divisi Regional Jember Tri Wahyudi Saleh di Jember, Selasa (5/4/2011).

Sewaktu ditanyakan oleh sejumlah petani saat dialog pada panen raya padi di Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, Jember, mengenai permintaan petani agar Perum Bulog membeli gabah petani, Tri Wahyudi Saleh mengaku siap membelinya. Akan tetapi, harga yang ditetapkan masih sebatas pada harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Perum Bulog hingga saat ini belum berani melangkah lebih jauh dengan membeli gabah dari petani sesuai harga pasar yang sudah melejit sangat tinggi. "Melalui satgas, kami keliling desa siap membeli gabah sekalipun hanya dapat 5 kuintal," kata Tri Wahyudi Saleh.

Ketua Forum Komunikasi Petani Pangan Jatim Jumantoro mengusulkan supaya pemerintah menaikkan harga gabah kering panen dari Rp 2.640 jadi Rp 3.000, gabah kering giling dari Rp 3.345 jadi Rp 3.600 per kg, dan beras dari Rp 5.060 jadi Rp 5.400 per kg.

Menurut dia, saat harga di atas HPP, petani memang sangat diuntungkan.

"Tetapi kita prihatin saat Bulog tidak dapat beras, maka ketahanan pangan kita mengkhawatirkan."

"Kita mengkhawatirkan akan masa depan karena pada saat musim gadu dan tidak ada panen, maka petani juga akan bertindak sebagai konsumen, terutama buruh tani," kata Jumantoro.

Sekretaris Kontak Tani dan Nelayan Andalan Jember Rahwini mengakui, sulit bagi Perum Bulog untuk memperoleh gabah sesuai prognosis. Apalagi, banyak gabah petani sekarang ditimbun di gudang perusahaan penggilingan padi.

"Mungkin mereka (perusahaan penggilingan padi) berharap agar ada kenaikan harga gabah secepatnya sehingga meraih keuntungan lebih besar," kata Rahwini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau