Kempo

Dana Pelatnas Belum Turun Sejak Oktober

Kompas.com - 06/04/2011, 04:16 WIB

Jakarta, Kompas - Pengurus Besar Persaudaraan Beladiri Kempo Indonesia mengeluhkan belum turunnya dana pelaksanaan Pemusatan Latihan Nasional untuk SEA Games XXVI/2011 Jakarta-Palembang hingga saat ini.

”Padahal, rencana pelaksanaan pelatnas (pemusatan latihan nasional) untuk SEA Games XXVI/2011 itu sudah kami ajukan sejak Oktober 2010, ketika untuk pertama kali kami menggelar pelatnas,” tutur Kusumo A Martoredjo, Ketua Umum Pengurus Besar Persaudaraan Beladiri Kempo Indonesia (PB Perkemi), Selasa (5/4).

Kusumo ditemui di sela-sela rapat persiapan Penataran Wasit Juri SEA Games XXVI/2011 yang akan berlangsung di Hotel Century, 7-10 April ini. Ikut mendampingi, Ruddy Budi Manoppo serta Iskandar Zulkarnain, yakni Sekjen dan Bendahara Perkemi.

Padahal, tambah Manoppo, ”Kami sudah mengikuti petunjuk dari Prima dan KONI dalam pelaksanaan pelatnas. Yakni, dengan jumlah atlet 200 persen.”

”Karena kami belum mendapatkan dana pelaksanaan pelatnas dari Kantor Menpora yang harusnya disalurkan melalui Prima, kami dengan terpaksa memulangkan ke-60 kensi yang dipersiapkan untuk turun di SEA Games,” ujarnya.

Dengan memulangkan mereka ke daerah masing-masing, bukan berarti mereka tidak berlatih. ”Modul latihan yang diberikan kepada setiap kensi kami kirim kepada masing-masing pelatih di daerah,” katanya.

Dengan demikian, kata Manoppo, sekalipun ke-60 kensi tersebut berlatih di daerah masing-masing, mereka melakukan latihan yang sama.

Meskipun Perkemi belum mendapatkan dana pelatnas SEA Games XXVI/2011, lanjutnya, pelatnas tetap digelar dengan dana dari kas Perkemi. ”Tentu kami masih berharap Menpora segera mencairkan usulan dana yang sudah kami sampaikan, sejak akhir tahun lalu itu. Agar tahapan yang ditetapkan Prima dan KONI dapat kami lakukan dengan baik,” ucap Kusumo.

Pasalnya, akhir April ini, Perkemi berencana untuk memanggil kembali ke-60 kensinya guna mengikuti saringan berikutnya. Itu untuk mencapai 150 persen.

Saringan terakhir untuk menentukan tim inti ke SEA Games, baru akan dilaksanakan Juli nanti. Hal itu bersamaan dengan pelaksanaan Pra-PON yang rencananya bakal dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan.

16 emas

Cabang kempo bakal memperebutkan 16 medali emas. Kempo masuk dalam cabang olahraga golongan III yang hanya dipertarungkan di SEA Games, dan baru untuk pertama kalinya digelar secara resmi. Masing-masing empat emas dari nomor randori (tarung) putra dan putri, mulai kelas 55 kg, 60 kg, 65 kg, dan 70 kg. Kemudian ada delapan emas dari embu (jurus) yang terdiri dari perorangan, berpasangan, dan beregu putra-putri. Berikut campuran untuk tingkat kyu kenshi serta tingkat dan.

Sebagai cabang yang baru dipertandingkan di SEA Games, menurut Kusumo, lewat usaha Perkemi sejak Februari lalu, kini sudah bisa digalang lebih dari 4 negara yang akan ambil bagian.

Untuk itu PB Perkemi sudah berkunjung dan memberikan pelatihan ke Brunei, Vietnam, Laos, Kamboja, Myanmar, dan ke Timor Leste.

Hasilnya, hingga sekarang ini sudah dua pelatih dari Indonesia melatih di Brunei, Vietnam, Laos, dan Timor Leste.

”Sedangkan untuk Kamboja dan Myanmar masih menunggu hingga federasi kempo negaranya terbentuk lebih dulu,” ungkap Sekretaris Jenderal PB Perkemi.

(NIC)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau