Dimesumi 2 Kali, Masih Diperas 30 Juta

Kompas.com - 06/04/2011, 18:39 WIB

GRESIK, KOMPAS.com — Warga Dusun Jurit, Desa Ikeriker Geger, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, gempar dengan temuan bayi yang dikubur di sebuah tegalan.

Bayi itu dibungkus karung plastik ukuran 5 kilogram, lalu dikuburkan di lubang sedalam 50 sentimeter. Pada leher bayi terdapat luka sayatan sepanjang 15 sentimeter.

Hingga Rabu jasad bayi perempuan itu ada di kamar jenazah RSUD Ibnu Sina, Gresik. Sementara itu, RR, perempuan yang diduga habis melahirkan bayi itu, telah diperiksa di poli kandungan di rumah sakit yang sama.

Kepala Kepolisian Sektor Cerme Ajun Komisaris Udin Syafrudin saat di RSUD Ibnu Sina, Gresik, Rabu (6/4/2011), menjelaskan, temuan bayi berawal dari kecurigaan warga terhadap gundukan tanah di tegalan.

Pada Senin sekitar pukul 23.00, warga bersama Ketua RT Ashary membongkar gundukan tanah itu. Pada Selasa pukul 03.00 polisi ke tempat kejadian perkara dan membawa jasad bayi itu ke RSUD Ibnu Sina.

"Kami memeriksakan RR ke poli kandungan untuk memastikan apakah dia habis melahirkan atau tidak. Warga mencurigai RR yang jarang keluar rumah, dan sebelumnya ada tanda-tanda hamil dan sering sakit-sakitan," ujar Udin.

Kepala Urusan Umum Desa Iker Geger Supriyadi menuturkan, selama ini RR tertutup. Kami tidak tahu persis apakah dia habis melahirkan atau tidak.

Namun, warga curiga karena dia jarang keluar dan sakit-sakitan. "Gundukan tanah yang dibongkar dan berisi bayi itu ada di tegalan orangtua RR," kata Supriyadi.

Saat diperiksa dokter, RR mengaku habis melahirkan.

Termakan janji

RR (27) tega membunuh bayinya karena kondisi emosinya tidak stabil dan dalam keadaan kalut. Bayi perempuan itu dibungkus karung plastik ukuran 5 kg, lalu dikuburkan di tegalan oleh ayah RR.

Penasihat hukum RR, Wagiman Sumodimedjo, menyatakan, kliennya terpaksa membunuh bayinya sendiri karena sebelumnya telah dua kali diperkosa dan terkena janji palsu dari Wiwit yang mengaku sebagai oknum polisi dan tinggal di Kompleks Perumahan Alam Bukit Raya, Gresik.

"Klien kami mengenal Wiwit yang mengaku oknum polisi sembilan bulan lalu," kata Wagiman.

Selain diperkosa dua kali oleh Wiwit, RR juga ditipu oleh Wiwit. Modusnya, Wiwit akan memasukkan adik RR bernama Saiful menjadi pegawai PT Semen Gresik (Persero), tetapi diminta menyetor uang Rp 30 juta.

Namun, setelah RR menyetor uang ke Wiwit, adiknya tidak juga menjadi karyawan PT SG. "Setelah menggauli klien kami dan menerima uang, Wiwit sampai saat ini belum diketahui rimbanya," kata Wagiman.

Menurut Wagiman, kliennya telah menjalani pemeriksaan di unit Pelayanan Perempuan dan Anak Kepolisian Resor Gresik.

"Kliennya hanya mencekik leher bayi yang telah dilahirkan sebelum dikubur di tanah tegalan milik orangtuanya. Soal sayatan di leher biar diselidiki polisi," katanya.

Sebelum kenal Wiwit, RR menjanda. RR dikaruniai satu anak dengan suami pertamanya, Eka. Namun, hubungannya tidak harmonis sehingga akhirnya bercerai.

Setelah bercerai, RR berkenalan dengan Wiwit hingga akhirnya diperdayai hingga tega membunuh bayinya karena kalut dan tertekan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau