Permukiman kumuh

Rusunawa Tengah Kota untuk Revitalisasi

Kompas.com - 08/04/2011, 13:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Triwisaksana, mengungkapkan masih banyaknya permukiman kumuh di Jakarta sebenarnya bisa dialihkan dengan membangun rumah susun sewa (rusunawa) di pusat kota. Dengan pengalihan ini, daerah kumuh pun dapat direvilatisasi dengan kualitas hidup yang lebih baik.

"Rusunawa itu dibangun di pusat-pusat kota sangat penting sehingga ada revitalisasi pada permukiman kumuh," ujar Sani, sapaan akrab Triwisaksana, Jumat (8/4/2011), di Gedung DPRD DKI.

Dengan pembangunan rusunawa di pusat kota itu justru akan menambah ruang terbuka hijau. Karena di tiap rusun itu akan dibangun fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) seperti taman hingga perpustakaan.

"Kualitas hidup masyarakat akan meningkat karena wilayah yang tadinya kumuh jadi lebih tertata, kan?" ucap Sani.

Namun, hal itu justru tidak dilakukan Pemerintah Provinsi DKI. Pemprov cenderung lebih memilih untuk membangun rumah susun di daerah pinggir Jakarta yang jauh dari tempat tinggal semula warga. Alhasil, banyak rusunawa tidak laku.

"Lokasinya yang sekarang jauh dari tempat asalnya, jelas warga permukiman padat itu enggak mau dipindah karena jauh, tidak ada akses transportasi. Sampai sarana yang tidak memadai seperti air dan listrik," tutur Sani.

Karena itu, paradigma Pemprov DKI harusnya berubah dengan menyediakan rumah susun di tengah kota.

"Untuk membangun rusun di tengah kota Pemprov DKI harus gandeng pihak swasta dalam hal sosialisasi. Soal pembiayaan dan penyediaan lahan, Pemprov harus memberikan subisidi," ungkap Sani.

Menurut Cosmas Batubara, komisaris independen sejumlah pengembang properti dan Mantan Menteri Perumahan Rakyat era Soeharto mengungkapkan, yang paling mendesak dan perlu dilakukan di Jakarta saat ini adalah peremajaan kota atau urban renewal.

"Itu harus dilakukan di Jakarta. Kalau kita jalan dari Senen hingga St Carolus, di belakang jalan itu banyak permukiman padat. Mengapa misalnya tidak diremajakan saja dan dijadikan hunian rumah susun 4 lantai? Ini bisa menjawab masalah kelangkaan tanah di kota besar," katanya.

Apabila konsep itu bisa terwujud, wajah kota Jakarta akan lebih indah. Sehingga akan banyak ruang terbuka hijau dapat tersedia. Keuntungan lainnya, masyarakat tidak lagi dikhawatirkan dengan bencana banjir dan lahan parkir pun semakin banyak.

"Jika semua pihak jujur, rakyat pasti mau. Jadi masyarakat sekitar harus menempati rusun itu lebih dahulu, baru ditawarkan ke orang lain. Dan ini harus dilakukan dengan jujur. Jadi perlu kebijakan pemerintah daerah yang mantap dan kuat," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau