BANDUNG, KOMPAS.com - Industri otomotif di Indonesia belum mandiri, terutama di sektor komponen masih bergantung pada negara prinsipal. Kondisi itu bisa dilihat dari kejadian bencana alam yang menimpa Jepang, membuat hampir seluruh industri otomotif dunia pincang, tak terkecuali Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi dalam acara Workshop Pendalaman Kebijakan Industri untuk Wartawan di Hotel Grand Aquila, Bandung, hari ini (8/6).
Budi menjelaskan, kendaraan bermotor Indonesia sudah punya kandungan lokal antara 50-70 persen. Tapi, komponen lainnya masih didatangkan dari negara-negara di ASEAN 15 persen dan 15 persn lagi dari Jepang. Kondisi ini terbilang wajar karena sesuai konsep multi sourching pengembangan industri otomotif dunia. Jadi, semua industri otomotif tak berpusat di satu tempat saja agar bisa meringankan biaya produksi. Tapi ada kelemahannya, kalau salah satu mata rantai terganggu, maka mempengaruhi semua rangkaian produksi," beber Budi.
Sampai hari ini, lanjutnya, industri kendaraan bermotor dan komponennya di Jepang masih belum beroperasi optimal. Tapi, stok yang dimiliki industri perakitan Indonesia masih aman sampai April. Namun, pelaku industri saat ini melakukan pembicaraan dengan prinsipal mengenai dilakukan penggantinya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang