Perempuan Semestinya Tangguh Luar Dalam

Kompas.com - 08/04/2011, 20:12 WIB

KOMPAS.com - Perempuan yang menggantungkan kebahagiaan kepada laki-laki cenderung akan kehilangan pasangan. Sebaliknya, perempuan yang nyaman dan merasa aman dengan dirinya, mandiri, kuat, dan tangguh dari tampilan luar dan mentalnya, justru menjadi idaman pria.

Karakter perempuan tangguh  juga ditandai dengan sikap tidak manja atau ingin dimanjakan. Karakter yang juga menonjol dari tipe perempuan ini di antaranya cerdas dan mandiri. Kemandirian perempuan bukan hanya terlihat dari permukaan aktivitas hariannya, tetapi jauh lebih kepada kemandirian dari dalam pikiran dan hatinya.

Inilah pandangan yang ingin disampaikan penulis best seller Sherry Argov dalam bukunya, Why Men Marry Bitches: A Woman’s Guide To Getting And Keeping Her Man’s Heart. Buku yang ingin menunjukkan kepada perempuan bagaimana membangun komitmen dengan pasangan melalui cara yang tak biasa.

Menurut Sherry, jika saat ini Anda masih kesulitan mendapatkan pasangan, belum juga menemukan jodoh, bermasalah dengan hubungan, bisa jadi karakter perempuan tangguh belum menonjol dalam diri.

"Pria secara diam-diam menghargai perempuan kuat dan tangguh, perempuan yang percaya diri dan punya mimpi atas hidupnya. Bagi pria, daya tarik perempuan terlihat dari cara perempuan menghargai dirinya. Pria akan menikahi perempuan yang tak lemah dan punya penghargaan atas diri," jelas Sherry.

Pria akan mencari perempuan cerdas, menghargai diri dengan merawat fisik dan penampilan, dan seksi. Menjadi perempuan yang tak tegas, terlalu bergantung dengan pria, menunjukkan kelemahan, termasuk menuntut untuk dimanjakan, takkan menarik bagi pria.

Pandangan ini, termasuk buku yang ditulis Sherry memang kontroversial. Karena memang, bagi sebagian orang, pria justru menginginkan perempuan penurut dan tunduk dengan apa katanya. Namun pendapat sebagian orang ini juga menjadi terbantahkan. Karena dari hasil wawancara dengan ratusan laki-laki dan perempuan, diketahui bahwa perempuan tangguh nyaman dengan identitas diri yang kuat.

Masih belum terbayang seperti apa perempuan tangguh itu? Perempuan ini membebaskan pasangannya, karena ia juga menikmati waktu untuk dirinya. Perempuan tangguh tegas untuk mengatakan apa yang ia inginkan. Perempuan ini tak perlu menunggu pria memandunya, karena ia pun merasa setara mengambil alih kemudi. Tipikal perempuan ini tak merasa harus diperlakukan berbeda sebagai perempuan, inilah makna kemandirian sebenarnya.   

Sayangnya perempuan tipe ini masih langka, karena kebanyakan perempuan diarahkan (oleh sejumlah artikel di media misalnya) untuk menjadi pelayan pria. Perempuan dilatih untuk berperilaku seakan ia putus asa dan berkompetisi merebut hati pria untuk dipilih. Perempuan biasa yang tak tangguh, menempatkan kebutuhan dirinya paling akhir. Yang paling diinginkan perempuan tipe ini adalah dipuja laki-laki, dibawakan bunga di kencan pertama, atau mendengar pasangannya mengaku bahwa ia laki-laki paling beruntung mendapatkan cintanya. Perlakuan dan pengakuan "istimewa" dari pria atas dirinya menjadi penting, karena ia tak sepenuhnya mandiri dan tangguh dengan dirinya.

Cara pandang Sherry tentang konsep perempuan tangguh dan perempuan biasa memang kontroversial. Tetapi setidaknya ia mengajak perempuan berpikir kembali, ingin seperti apa perempuan memposisikan dirinya, sejauhmana perempuan bisa meraih bahagia dengan kemandirian dan ketangguhan, luar dan dalam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau