Plts

PLN Akan Membangun 124 PLTS

Kompas.com - 08/04/2011, 20:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) akan membangun 124 pembangkit listrik tenaga surya pada tahun 2011. Hal ini untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di kawasan Indonesia bagian timur yang masih di bawah 60 persen.  

 

Melalui program ini, menurut Direktur Operasi Indonesia Timur PLN Vicker Sinaga, Jumat (8/4/2011), di Jakarta, PLN menargetkan penambahan 370.000 pelanggan. Secara keseluruhan, target penambahan pelanggan di Indonesia bagian timur tahun ini 1,1 juta pelanggan.

Untuk mempercepat pasokan listrik di daerah yang jauh dari jaringan dan kepulauan, perseroan itu akan membangun ratusan PLTS lewat sistem komunal dan mandiri.

Dalam sistem komunal, pembangkit melistriki satu pulau di mana ada instalasi, panel surya dan jaringan. Dalam sistem PLTS mandiri, pembangkit melistriki daerah yang jauh dari jaringan dan ada 1.234 pelanggan yang sudah memakai sistem kelistrikan ini.

Tahun ini PLN akan membangun 124 pembangkit tenaga surya di Indonesia bagian timur tahun ini. Rinciannya, 15 lokasi di 15 kabupaten di Papua dan Papua Barat dengan total daya 4.500 kilo Watt Peak (kWP).

Perseroan itu juga akan membangun 109 pembangkit tenaga surya di sekitar 100 pulau dengan total kapasitas 18.150 kWp yang tersebar di sejumlah provinsi di antaranya Papua, Papua Barat, Maluku dan Nusa Tenggara Timur.

"Adapun biaya investasi pembangunan pembangkit itu sekitar Rp 9 miliar untuk setiap pulau. Dianggarkan Rp 750 miliar, sisanya akan didapat dari penghematan belanja modal dan biaya operasi," kata dia.

Untuk sistem PLTS mandiri, PLN mengeluarkan biaya penyambungan Rp 3,5 juta per pelanggan, lebih rendah dari biaya jaringan baru yang sebesar Rp 8 juta per pelanggan. Pelanggan wajib membayar uang jaminan Rp 500.000 dan biaya berlangganan Rp 35.000 per bulan.

"Setiap pelanggan dapat tiga lampu super ekstra hemat energi (SEHEN) 2-3 watt. Lebih murah kan dibanding pakai lampu petromax yang butuh beli minyak tanah Rp 90.000 per bulan," kata dia.

Menurut Sekretaris Eksekutif Direktur Operasi Indonesia Timur PLN Martono, saat ini pembangunan ratusan PLTS itu baru tahap penyiapan dokumen. Dalam waktu dekat akan tender. "Proses pengadaan barang dan pembangunan konstruksi diperkirakan butuh waktu lima bulan," ujarnya menjelaskan.

Menanggapi hal itu, pengamat kelistrikan Fabby Tumiwa menilai, pembangunan pembangkit tenaga surya ini memiliki beberapa kelemahan. Selain investasi awal tinggi, pasokan energi terbatas karena bergantung pada kondisi sinar matahari. "Untuk itu, sistemnya bisa di-hybrid dengan pembangkit listrik tenaga diesel dan PLTS," kata dia.

Selain itu perawatan menjadi tantangan. Oleh karena, ada beberapa komponen yang memerlukan perawatan rutin meski secara teknis mudah. "Secara keseluruhan, pembangunan PLTS ini mempunyai nilai positif, asalkan sistemnya handal dengan komponen atau alat-alat berkualitas sehingga bisa menghasilkan tenaga listrik dalam 15-20 tahun," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau