KOMPAS.com - Tahun 2006 adalah tahun di mana saya menginjakkan kaki dan berenang untuk pertama kalinya di Pulau Sabang, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam atau titik terbarat Indonesia. Empat tahun kemudian, di pagi bulan Desember yang sejuk, saya mencapai titik tertimur, Merauke, Papua. Pak Mike, pria Merauke campur Ambon, seorang pecinta Persipura sejati, menemani saya dalam perjalanan mobil menuju perbatasan Indonesia dan Papua Nugini. Kami berjalan ke timur, berbicara dan melihat-lihat.
Tidak seperti Jayapura yang bergunung-gunung, Merauke adalah sebuah hamparan yang mendatar. Di sepanjang jalan kita akan melihat padang rumut, rawa, dan jajaran pohon kayu putih. Saya membiarkan kaca mobil terbuka, angin sedang agak sejuk waktu itu.
Pak Mike dan saya tak henti berbincang selama perjalanan. Ia banyak bercerita tentang bagaimana Merauke, dan Papua secara umum adalah wajah Indonesia yang lain. Wajah yang seharusnya lebih sering dilihat dan tidak ditempatkan di bagian yang agak menyendiri di belakang.
Konon Bupati Merauke, Pak John Gluba Gebze, pernah protes terhadap lagu Dari Sabang Sampai Merauke karya R. Surarjo. Menurutnya, matahari terbit di Merauke dua jam lebih dahulu dibandingkan di bagian barat Indonesia. Tapi Merauke disebut lebih belakang dalam lagu itu. Ada sesuatu yang mesti diperbaiki tentang bagaimana Indonesia memandang dan menempatkan Papua. Begitulah kurang lebih katanya. Banyak cerita-cerita ringan seputar ini yang dibicarakan sepanjang perjalanan. Pak Mike selalu menyebut Jawa untuk mewakili bagian barat dari Indonesia.
“Kalau di Jawa, jadi sapi pun enak. Begitu lahir sudah dikasi makan. Di sini jangankan sapi, anak kecil pun disuruh pergi ke hutan mencari rusa.”
Ada lagi, “Kalau orang di Jawa dapat gaji, mereka akan menabung untuk suatu hari beli rumah. Kalau di sini, saat gaji cair, orang-orang beli bir. Setelah mabuk dan bisa bergeletakkan di jalan, mereka tidak lagi merasa perlu beli rumah.” Hal-hal semacam itu disampaikan Mike dalam perjalanan yang sejuk menuju timur.
Selain hamparan rumput, rawa, dan pohon kayu putih, ada sesuatu yang hebat sekali menyembul diantara barisan pepohonan. Gundukan tanah dua kali tinggi manusia yang bertebaran di sepanjang jalan. Itulah rumah semut atau yang oleh masyarakat setempat disebut Musamus.
Rumah-rumah ini bertebaran di sana sini, di pinggir jalan, atau menjorok ke dalam di antara pohon-pohon kayu putih. Sungguh hebat sekali semut-semut ini, bertahun-tahun mereka membangun rumah ini, setitik demi setitik tanah. Bukan sekadar rumah, rumah ini kokoh sekali. Walaupun tampak rapuh, cobalah untuk menggetoknya dengan tangan kalian. Tangan kalian akan kesakitan dan rumah ini masih akan tenang-tenang saja. Karena itulah, masyarakat Merauke menjadikannya sebagai simbol semangat. Semangat untuk terus bekerja walaupun selalu dipandang kecil, seperti semut-semut pemberani itu.
Menjelang sore kami sampai di desa Sota, desa perbatasan dengan Papua Nugini. Ini adalah desa biasa dengan rumah-rumah yang berjarak dan dibatasi padang rumput. Seandainya saya bisa punya rumah macam begini. Sore-sore saya bisa duduk membaca di bawah pohon sambil melihat anak-anak kecil bermain bola dan melakukan hal yang hanya masuk akal di kepala bocah-bocah itu. Kami berjalan terus menuju perbatasan. Di pos perbatasan saya duduk dan ngobrol dengan para anggota TNI penjaga perbatasan.
Para bapak-bapak pemberani ini, setahun penuh mereka harus ada di perbatasan. Mereka tidak boleh keluar dari desa Sota sepanjang tahun penugasannya. Jika mereka sampai terlihat di wilayah kota, mereka bakal dipenjara. Berat juga hidupnya. Kerja mereka duduk-duduk saja di perbatasan itu. Sekali waktu mereka akan berjalan ke tengah hutan, berpatroli dan memasang patok-patok perbatasan atau memastikan patok itu ada di tempatnya.
Mungkin mereka agak kesepian, jadi saat ada orang-orang seperti saya yang datang berkunjung mereka tampak agak senang. Tapi selain berjaga dan memasang patok, mereka juga memeriksa penduduk Papua Nugini atau desa Sota yang menyeberang. Biasanya para penyeberang ini pergi untuk berjualan atau mengunjungi keluarganya.
Menjelang gelap saya mohon diri untuk kembali ke kota Merauke. Para anggota TNI ini, mereka sempat menitip salam untuk belahan lain dari Indonesia. Di perjalanan pulang saya kembali melewati tugu kembar. Tugu perbatasan kembar yang ditempatkan di dua tempat terujung Indonesia, di titik nol Indonesia di Sabang dan di Merauke. Tugu yang terus berdiri mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki luas sampai ke sini. Tidak berhenti di suatu titik di bagian tengah.
Malam hari saya sampai di kota Merauke dan, untuk pertama kalinya, makan daging rusa. Sungguh nikmat daging rusa itu. Membuat saya makan dengan membabi buta. Cara yang baik sekali untuk mengakhiri hari di bagian paling timur Indonesia. (Get Lost in Indonesia/I Gusti Ngurah Wijaya Kusuma)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang