Komite normalisasi pssi

Soal Bakal Calon, Komite Berpegang Keputusan FIFA

Kompas.com - 09/04/2011, 04:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Komite Normalisasi menegaskan, mereka tetap berpegang pada keputusan Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional terkait bakal calon ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota Komite Eksekutif PSSI. Mereka memasuki tahap penyelesaian akhir menyusun Kode Pemilihan PSSI, yang akan menjadi dasar pemilihan ketua umum PSSI beserta jajaran anggota Komite Eksekutif 2011-2015.

”Kami belum pleno, jadi sementara referensi kami merujuk pada directive (arahan) FIFA pada tanggal 4 April lalu,” kata Joko Driyono, anggota Komite Normalisasi, dalam jumpa pers bersama tiga koleganya (Siti Nurzanah, Satim Sofyan, dan Dityo Pramono) di kantor PSSI, Jakarta, Jumat (8/4).

Pernyataan itu dikemukakan untuk menjawab pertanyaan wartawan soal boleh tidaknya empat kandidatnya yang dilarang FIFA maju dicalonkan sebagai wakil ketua atau anggota Komite Eksekutif PSSI 2011-2015. Dalam keputusan yang dirilis melalui situs resminya pada 4 April lalu, FIFA menegaskan ”tidak bisa dicalonkannya empat kandidat yang pernah digugurkan Komite Banding Pemilihan pada 28 Oktober sebagai ketua PSSI”.

Keempat kandidat itu tidak disebutkan dalam rilis FIFA, tetapi figur yang dimaksud adalah Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, George Toisutta, dan Arifin Panigoro. Pertanyaan wartawan sempat ditanyakan kepada FIFA melalui surat elektronik dan dijawab, ”Hal itu harus diputuskan Komite Normalisasi PSSI sesuai Statuta PSSI. Statuta PSSI tidak membedakan pencalonan untuk ketua umum dan Komite Eksekutif.”

Beberapa kalangan, antara lain PSM Makassar, mendesak agar Komite Normalisasi menerima penjaringan bakal calon Nirwan, Toisutta, dan Arifin karena dinilai tidak ada pelanggaran Statuta FIFA dan Statuta PSSI untuk pencalonan ketiga figur tersebut.

Joko mengungkapkan, Komite Normalisasi tidak akan mencantumkan nama-nama dalam draf Kode Pemilihan PSSI, yang disusun mengacu Kode Pemilihan Standar FIFA dan Statuta PSSI. ”Kalau ada larangan dari FIFA pada beberapa nama, itu akan jadi referensi saja,” katanya.

Draf Kode Pemilihan PSSI itu sedianya dituntaskan, Jumat kemarin, sebelum dikirim ke FIFA. Namun, hanya empat anggota Komite Normalisasi yang hadir di kantor PSSI. Tiga anggota lainnya, Sukawi Sutarip, Hadi Rudiatmo, dan Samsul Ashar, tidak datang. Adapun Ketua Komite Agum Gumelar, menurut Joko, tengah bertugas ke luar kota.

Sikap Toisutta

Terkait keputusan FIFA yang melarang dirinya masuk bursa bakal calon ketua umum PSSI, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal George Toisutta menilai, tindakan FIFA untuk mencampuri persoalan PSSI merupakan intervensi yang tidak menghargai asas peraturan yang berlaku di Indonesia.

Ditemui di Jakarta, Jumat, ia mengatakan, dirinya selama memimpin organisasi olahraga judo di Indonesia tidak pernah ada intervensi dari badan dunia judo. ”Tidak ada intervensi badan dunia terhadap organisasi judo kita. Saya pun tidak dalam posisi mencalonkan diri, tetapi dicalonkan oleh teman-teman,” ujarnya.

Ketika ditanya lebih lanjut apakah dia akan mengajukan diri sebagai ketua umum PSSI, George berseloroh dan mengatakan, ”Mari bung rebut kembali.”

Sementara dalam pernyataan persnya, Asosiasi Sekolah Sepak Bola Indonesia (ASSBI) yang dipimpin Taufik Jursal Effendi mengingatkan sejumlah kalangan agar ”mewaspadai para oportunis sepak bola yang akan memanfaatkan momentum pemilihan ketua umum PSSI 2011-2015 tanpa jerih payah dalam perjuangan revolusi sepak bola Indonesia.”

ASSBI juga berharap FIFA memberi kesempatan kepada Toisutta dan Arifin bisa dicalonkan sebagai ketua umum PSSI 2011-2015. (SAM/ONG)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau