Karyawan Minta Bertemu Presiden

Kompas.com - 10/04/2011, 03:14 WIB

Timika, Kompas - Karyawan PT Freeport Indonesia meminta agar diupayakan bisa berdialog dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk meminta jaminan keamanan dari Presiden selaku Panglima Tertinggi TNI.

Permintaan tersebut diungkapkan sejumlah karyawan di sela-sela unjuk rasa sekaligus perkabungan atas tewasnya dua pejabat bidang keamanan di perusahaan tambang emas terbesar di Indonesia itu. Aksi itu dilakukan setelah mereka menjemput dua jenazah pemimpin mereka di landasan helikopter (helipad) di depan Kantor Pusat Keamanan PT Freeport Indonesia.

Dalam aksi di depan Kantor Pusat PT Freeport Indonesia, Kuala Kencana, Papua, Sabtu (9/4), mereka meminta semua pihak terkait mampu menuntaskan kasus tersebut, termasuk mengungkap siapa pelakunya.

Dalam 20 bulan terakhir, terutama sepanjang tahun 2009, tercatat beberapa kali gangguan keamanan di wilayah operasi perusahaan tambang milik perusahaan Amerika Serikat itu.

Selain karyawan, beberapa kali aparat keamanan juga ditembak. Hingga saat ini, pelaku teror tersebut belum pernah terungkap.

Terakhir, pada Kamis lalu dua pejabat keamanan PT Freeport Indonesia, Daniel Mansawan yang menjabat manajer keamanan dan Hary Siregar yang menjabat komandan keamanan, ditemukan tewas di Mil 37.

Mengutip hasil sementara tim forensik, Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Wachyono menyatakan, kematian kedua pejabat keamanan Freeport itu akibat kebakaran.

Meskipun demikian, ungkap Wachyono, polisi tetap akan terus melakukan penyelidikan. Apalagi pada bodi mobil yang ditumpangi Hary Siregar dan Daniel Mansawan itu terdapat lubang. Juga ditemukan selongsong peluru tidak jauh dari kendaraan yang terbakar itu.

Menurut Agus Albert Mofu, perwakilan karyawan, polisi diberi tenggat satu minggu untuk mengungkap kasus tersebut. Jika tidak, mereka menolak membayar pajak. (JOS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau