Serbuan Sampah di Kuta sampai Mei

Kompas.com - 10/04/2011, 06:25 WIB

KUTA, KOMPAS.com — Serbuan sampah ke Pantai Kuta, Bali, diperkirakan masih terus akan berlangsung hingga akhir Mei. Dengan demikian, petugas kebersihan Kabupaten Badung dan Provinsi Bali masih harus bekerja keras membersihkan pantai yang menjadi lokasi favorit wisatawan tersebut.

Kepala Bidang Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah III Denpasar Endro Cahyono, Sabtu (9/4/2011), menyatakan bahwa penyebab munculnya sampah di sejumlah pantai di selatan Bali itu adalah tiupan angin dari barat.

Menurut dia, angin yang bertiup dari barat tersebut membawa segala sampah dari Samudra Hindia, yang kemudian terdampar di Pantai Kuta, Seminyak, hingga Legian.

”Ketiga pantai, terutama Pantai Kuta, berada persis di cekungan Pulau Bali di bagian selatan. Karena berbentuk cekungan, ombak tertahan, dan sampahnya menumpuk di pantai,” katanya.

Dia menambahkan, embusan angin barat itu biasa terjadi setiap tahun sehingga serbuan sampah pun rutin setiap tahun. Sampah ringan dan berat seperti potongan batang kayu, lanjutnya, bisa berasal dari mana saja, termasuk dari Jawa Timur.

Biasanya, angin barat berlangsung dari Desember hingga Februari. ”Tetapi, tahun ini berlangsung lebih lama karena pengaruh La Nina,” kata Endro.

Secara terpisah, Ketua Bali Tourism Board Ngurah Wijaya menanggapi dengan tenang pemberitaan majalah Time edisi 1 April yang berjudul ”Holidays in Hell: Bali’s Ongoing Woes”.

Baginya, artikel itu memang fakta dan tidak perlu dimungkiri atau dibantah. Apalagi, yang disoroti dalam pemberitaan tersebut hanya kondisi di Bali selatan, khususnya Kuta. ”Pulau Bali tidak hanya Kuta dan kondisi itu tidak dijumpai di semua wilayah Bali,” ujarnya.

Ngurah Wijaya mengakui, Pantai Kuta memang lokasi paling favorit bagi wisatawan, termasuk yang baru pertama kali ke Bali. Namun, pantai di Bali tidak hanya di Kuta. Kalau mau menikmati pantai, wisatawan bisa ke Pantai Lovina dengan lumba-lumbanya di Buleleng, Pantai Sanur di Denpasar, Candi Dasa di Karangasem, dan Tanah Lot di Tabanan.

”Yang terpenting saat ini, bagaimana menindaklanjuti kritik tersebut dan mengatasi permasalahan yang ada,” katanya.

Tetap ramai

Dari pantauan Kompas, hingga Sabtu kemarin wisatawan tetap berdatangan dan bergembira ria bermain-main di Pantai Kuta sambil menyaksikan petugas membersihkan pantai.

Sejumlah aparat kepolisian, pegawai hotel, dan Satuan Petugas Pantai Kuta sejak pagi hingga petang beramai-ramai memungut dan membersihkan sampah yang berserakan di pasir pantai.

Ketua Satuan Petugas Pantai Kuta IGN Tresna bahkan mengaku terkesan karena disalami sejumlah wisatawan yang bersimpati terhadap aktivitas pembersihan pantai.

”Kami bersiaga hingga hari-hari seterusnya dan menjaga sampah tidak lagi berserakan mengganggu pengunjung,” kata Tresna.

Ia menyambut gembira komitmen Pemerintah Kabupaten Badung yang bersedia mengirimkan berapa pun truk untuk mengangkut sampah selama 24 jam.

Menurut catatan Kompas, pariwisata Bali mendatangkan sekitar 2,4 juta wisatawan asing melalui Bandara Internasional Ngurah Rai pada tahun 2010. Tahun ini pemerintah menargetkan 2,7 juta wisatawan asing berkunjung ke Bali. (AYS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau