Diludahi, Wagub Jawa Timur Malah Tertawa

Kompas.com - 10/04/2011, 18:34 WIB

PROBOLINGGO, KOMPAS.com — Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul tiba-tiba diludahi. Namun ia tidak marah, sempat kaget, lalu tertawa.

Peristiwa menggelikan ini terjadi di acara Kontes Nasional, Bursa dan Expo Kambing Peranakan Ettawa di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Kompetisi yang memperebutkan Piala Gubernur Jawa Timur tersebut digelar Asosiasi Peternak Ettawa Nasional (Aspenas) Jawa Timur, sejak Sabtu (9/4/2011) hingga Minggu (10/4/2011).

Sedikitnya peserta dari 17 kota dan kabupaten se-Jawa Timur mengikuti kontes itu. Ada pula peserta yang dari luar Jawa Timur. Kontes yang memperebutkan trofi dan uang pembinaan itu terbagi dalam lima kategori, tergantung pada berat badan dan usia kambing. 

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) bersama istri, Ummu Fatma, dan rombongan pejabat Pemprov hadir di Probolinggo, Minggu, menyerahkan hadiah kepada para pemenang. Gus Ipul mengungkapkan, dirinya bangga atas perkembangan kambing Ettawa di Jawa Timur. Para peternak Ettawa, bagi Gus Ipul, adalah pahlawan karena merintis usaha ternak Ettawa.

"Kalau peternak sapi sudah jelas, banyak yang untung. Kalau Ettawa, ini masih usaha rintisan. Bahkan, tanpa dimodali pemerintah, para peternak jalan terus. Para peternak Ettawa, menurut saya, adalah orang gila, sebab perawatan Ettawa melebihi perawatan istri," katanya sambil terkekeh.

Maklum, menurut Habibullah, seorang peserta kontes, perawatan kambing Ettawa di antaranya adalah memandikan tiga kali sehari dengan shampo agar bulunya mengkilat. Terkait makanannya, kata Habib, bergantung pada berat dan usia kambing. "Jika ukurannya kecil, jumlah rumput yang dimakan seperti kambing pada umumnya. Kalau besar, ya lebih banyak," ujarnya.

Karena kambing Ettawa sering diekspor ke Malaysia dan Singapura, Gus Ipul berharap agar kambing itu bisa diolah di Jawa Timur. Apalagi, kotorannya bisa menghasilkan sampo dan lulur. Bahkan susunya mengandung protein yang setara dengan ASI dan lebih banyak dari susu sapi. 

"Istri saya baru tahu dan penasaran dengan lulur dari kambing Ettawa. Yang jelas, Pemprov Jawa Timur akan membantu lewat regulasi demi perkembangan Ettawa," ujanya. 

Seusai menyerahkan hadiah kepada para pemenang, Gus Ipul dan istrinya kemudian mendatangi kambing Ettawa yang ukurannya jauh lebih besar daripada kambing biasa. Mereka berdua seakan kagum atas kambing yang memiliki warna bulu unik dan berbadan jumbo. Gus Ipul tak henti-hentinya mengusap dan mengelus kepala kambing. 

Saat dielus-elus, seekor kambing berulang kali menyembur wajah Gus Ipul. Namun, ia terlihat semakin gemas dan tak menghentikan belaiannya. Tiba-tiba, kambing itu meludahi wajah orang nomor dua di Jawa Timur tersebut. Gus Ipul kaget, berterak, dan secara refleks memalingkan muka serta memegangi wajahnya. Rombongan pejabat Pemprov Jawa Timur terdiam. 

Setelah sekian detik memegangi wajah dan memejamkan matanya, Gus Ipul lalu tertawa senang sembari mengelus kambing itu lagi. 

Kendati Gus Ipul dan rombongan sudah beranjak dari kandang kambing, Ummu Fatma malah enggan meninggalkan kambing itu. Ia terus membelai seolah tak khawatir diludahi kambing seperti yang dialami suaminya. Bahkan, berulang kali dia berpose bersama kambing yang baunya minta ampun itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau