UA Mediasi Krisis Libya

Kompas.com - 11/04/2011, 02:59 WIB

NOUAKCHOTT, Minggu - Uni Afrika berupaya menengahi konflik di Libya dengan menawarkan gencatan senjata dan dialog terbuka. Terkait dengan itu, sebelum mengunjungi Libya, lima pemimpin Afrika menggelar pertemuan di Nouakchott, ibu kota Mauritania, Minggu (10/4).

”Pertemuan akan mengevaluasi perkembangan terbaru terkait situasi di Libya sebelum kami nanti mengunjungi negara itu,” ungkap Presiden Mauritania Mohamed Ould Abdel Aziz.

Dalam pertemuan ini, Abdel Azis bergabung dengan Presiden Mali Toumani Amadou Toure dan Presiden Kongo Denis Sassou Nguesso. Dua pemimpin Afrika lainnya yang dijadwalkan hadir—Presiden Uganda Yoweri Museveni dan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma—hanya diwakili menteri luar negeri masing-masing.

”Kami memiliki harapan yang baik. Langkah ini akan menjadi awal dialog konstruktif untuk solusi politik yang bisa dinegosiasikan dalam mengakhiri krisis Libya,” kata Abdel Aziz, pemimpin pertemuan. Ia menjamin terpenuhinya aspirasi sah rakyat Libya demi menciptakan dan menjaga persatuan, mendirikan lembaga-lembaga demokratis andalan, dan dipilih secara bebas.

Pertemuan lima pemimpin Afrika itu, menurut AFP, didukung Uni Eropa (UE). Lima negara itu, yang dipilih UE untuk mewakili Uni Afrika (UA), diharapkan menjadi mediator penyelesaian krisis Libya akibat perseteruan antara kubu loyalis Moammar Khadafy dan oposisi.

UA mengusulkan ”manajemen inklusif” masa transisi di Libya. Negara itu membutuhkan demokrasi, reformasi, keadilan politik, perdamaian, dan keamanan.

”Delegasi UA sudah mendapat izin NATO untuk masuk ke Libya dan bertemu di Tripoli dengan pemimpin Libya. Delegasi juga akan bertemu Dewan Nasional Transisi Sementara (PTNC) di Benghazi pada 10-11 April 2011,” kata Kementerian Luar Negeri Afrika Selatan.

Pertempuran sengit

Pertempuran sengit dan berdarah masih terjadi di kota-kota strategis di Libya sejak Sabtu hingga Minggu. Pertempuran paling sengit terjadi di Brega, kota minyak di Libya timur, dan Misrata di Libya barat. Misrata adalah kota besar ketiga setelah Tripoli, ibu kota negara, yang menjadi basis Khadafy dan Benghazi, yang menjadi basis pertahanan oposisi.

Hari Sabtu, pasukan Pemerintah Libya menembak jatuh dua helikopter milik oposisi di Brega. ”Dua helikopter pemberontak melanggar zona larangan terbang dan ditembak jatuh oleh rezim di wilayah Brega,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Libya Khaled Kaaim dalam konferensi pers di Tripoli, Sabtu malam.

Kaaim mengecam aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang tengah menerapkan Resolusi DK PPB 1973 terkait dengan penegakan zona larangan terbang di Libya. ”NATO, Sabtu, mengizinkan pemberontak melanggar resolusi dan memakai helikopter tempur,” katanya.

Mengklaim bahwa NATO berpihak kepada pemberontak, Kaaim menambahkan, ”Pertanyaan kami kepada NATO: tujuan resolusi hanya Pemerintah Libya atau kedua belah pihak?”

Kaaim menilai aliansi tak adil dalam melaksanakan operasi penegakan zona larangan terbang. Wartawan AFP, Sabtu, juga melihat sebuah helikopter militer Libya terbang rendah menuju wilayah Ajdabiya, Libya timur.

Pertempuran sengit juga terjadi di Misrata. Pihak oposisi mengaku, delapan pejuangnya tewas akibat serangan loyalis Khadafy di jalan al-Theqeel Nakl, jalan utama ke daerah pelabuhan Misrata yang dikuasai oposisi.

Abdulrahman Mustafa, oposan, mengatakan, NATO mengintensifkan serangan terhadap pasukan Khadafy di Misrata. ”Pasukan NATO telah berubah, kami merasakan perubahan yang positif. Mereka telah mengebom setidaknya empat basis pertahanan Khadafy di Misrata,” katanya kepada Reuters.

Loyalis Khadafy juga memukul oposisi di Ajdabiya. Namun, NATO, Sabtu, menghancurkan 17 tank dan kendaraan lapis baja loyalis. Petugas Rumah Sakit Ajdabiya mengatakan, akibat pertempuran itu delapan orang tewas dan belasan lainnya terluka.

Koalisi internasional menegakkan zona larangan terbang di Libya sejak 19 Maret. Semula melibatkan tiga negara (AS, Inggris, dan Perancis) dengan sandi operasi Odyssey Dawn. Kemudian dipimpin NATO dengan sandi operasi Unified Protector yang melibatkan 17 negara.(AP/AFP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau