Imigrasi: Suruh Miller Cabut Omongannya

Kompas.com - 11/04/2011, 15:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -- Miller, artis peran Malaysia yang juga kekasih artis peran dan model Indonesia Arumi Bacsin, dinilai oleh beberapa pihak di negeri ini telah melecehkan bangsa Indonesia dengan melontarkan kalimat yang tak pantas, yaitu "Orang Indonesia datang ke Malaysia menjadi TKI, sementara orang Malaysia datang ke Indonesia untuk menjadi artis." Pihak Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi pun memiliki penilaian yang sama.

"Memang benar dari Indonesia banyak jadi tenaga kerja. Tapi, omongannya nyakitin ya dengan kalimat seperti itu," kata Direktur Penyidikan dan Penindakan Keimigrasian, Husin Alaydrus, dalam wawancara dengan Kompas.com di Kantor Ditjen Imigrasi, Kuningan, Jakarta, Senin (11/4/2011).

Husin mengimbau agar pemuda yang dihubung-hubungkan dengan peristiwa Arumi kabur dari rumah itu mencabut ucapannya. "Suruh dia cabut omongannya. Ini bahaya untuk hubungan diplomatik Indonesia-Malaysia. Ya kan?," tekan Husin.

Jika akhirnya segelintir pihak melalui organisasi kemasyarakatan menginginkan Miller segera dideportasi ke negara asalnya, Husin menyarankan agar pihak-pihak tersebut melaporkannya ke polisi. "Ini bukan bagian kami, ini polisi yang harus memproses. Untuk deportasi, kami tunggu rujukan dari polisi," jelasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau