JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus berupaya membebaskan 20 awak kapal MV Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia di perairan dekat Pulau Socotra, Semenanjung Arab, sejak 16 Maret 2011. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tene mengungkapkan, kendati terus berupaya, pihaknya sulit memastikan kapan para ABK itu dapat dibebaskan.
"Kami berusaha secepatnya, tetapi sulit menetapkan deadline (target awak kapal tersebut bebas). Tetapi, secepatnya kami harap bisa dibebaskan," kata Michael ketika dihubungi Kompas.com, Senin (11/4/2011).
Michael mengatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah upaya penyelamatan. Namun, ia tidak dapat mengungkapkan detail upaya apa saja yang telah dilakukan pemerintah.
"Semua opsi, sejak awal kasus ini sudah kami upayakan, melalui jaringan regional, formal, nonformal, yang kami anggap bisa membantu," ujarnya.
Sepengetahuannya, kata Michael, pihak perusahaan yang mempekerjakan awak kapal tersebut, yakni PT Samudera Indonesia dan PT Aneka Tambang, telah menghubungi pihak pembajak laut dan berupaya membebaskan para awak kapal yang membawa muatan biji nikel ke Belanda itu. Namun, hingga saat ini belum membuahkan hasil maksimal.
"Kami terus berupaya memastikan keamanannya," kata Michael.
Ia menambahkan, kondisi 20 awak kapal Sinar Kudus tersebut relatif aman meskipun dalam kondisi kesulitan logistik dan 12 orang di antaranya jatuh sakit. "Komitmen pemerintah jelas, seperti sikap pemerintah terhadap WNI di Libya, Tunisia, Jepang, dan Arab, selalu menunjukkan keseriusan atas keselamatan WNI kita di luar negeri," tandasnya.
Seperti diberitakan, kapal milik PT Samudera Indonesia Tbk itu dibajak di Semenanjung Somalia dalam perjalanan dari Pomalaa, Sulawesi Selatan, menuju Rotterdam, Belanda. Para pembajak mengambil alih kapal sekitar pukul 14.27 WIB pada Rabu (16/3/2011). Sebanyak 20 awak kapal yang seluruhnya berkebangsaan Indonesia dalam keadaan selamat. Semula, para perompak meminta tebusan 2,6 juta dollar AS, yang kemudian dinaikkan menjadi 3,5 juta dollar AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang