Tim nasional

Rahmad Darmawan dan Aji Santoso Kandidat Pelatih

Kompas.com - 12/04/2011, 03:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Pelatih Persija Jakarta Rahmad Darmawan dan Pelatih Persebaya 1927 Aji Santoso diajukan sebagai kandidat pelatih pelaksana harian tim nasional U-23 SEA Games. Pelatih pelaksana harian bertugas mengepalai pemusatan latihan tim nasional dan berada di bawah koordinasi Pelatih Kepala Alfred Riedl.

Kedua nama itu muncul dalam pertemuan antara Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) Utama, Badan Tim Nasional, dan Konsorsium Liga Primer Indonesia (LPI), Senin (11/4). Kedua pelatih itu diminta membantu Riedl menangani timnas karena ia dinilai berkualitas.

Rahmad dan Aji akan diuji kelayakannya membesut tim nasional dengan cara presentasi program pelatihan selama enam bulan.

”Dua nama itu akan diundang Kamis pekan ini untuk menjelaskan rancangan program mereka bagi timnas,” ujar Ketua Satlak Prima Utama Tono Suratman.

Presentasi itu akan menjadi dasar untuk memilih calon pelatih pelaksana harian tim nasional U-23. Lebih lanjut Tono mengatakan, Satlak Prima Utama baru sebatas meminta izin manajemen masing-masing klub agar keduanya bisa memenuhi undangan tersebut.

Bila terpilih, kata Tono, Satlak akan meminta manajemen untuk melepaskan mereka dari posisi manajer atau pelatih. ”Ini demi Indonesia,” u j a r ny a .

”Jika Rahmad Darmawan yang terpilih, kami akan menyurati Manajer Persija agar mau meminjamkan Rahmad Darmawan menjadi pelatih tim nasional. Masalah kontrak Rahmad akan dibicarakan berikutnya,” kata Tono.

Manajer Persebaya 1927 Saleh Ismail Mukadar yang ditemui terpisah menjelaskan, manajemen klub akan melepaskan Aji Santoso jika memang diminta membantu timnas. Klub akan mencari pelatih baru menggantikan posisi Aji.

”Tidak masalah jika memang diminta menangani timnas, demi nusa dan bangsa,” ujar Saleh.

Riedl dipertahankan

Deputi Bidang Teknik Badan Tim Nasional Iman Arif menjelaskan, posisi Alfred Riedl tetap dipertahankan. Riedl akan menjadi pelatih kepala yang menangani timnas U-23 dan senior sesuai kontrak yang baru akan berakhir Mei 2012.

Riedl, ujar Iman, terikat kontrak internasional yang tidak bisa semena-mena diputus. Jika gegabah, Riedl memiliki hak untuk membawa masalah ini ke Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan FIFA. Selain itu, kompensasi yang harus dibayarkan karena pemutusan kontrak juga sangat besar. Nilai kontrak Riedl sebesar 16.000 dollar Amerika Serikat per bulan.

”Riedl tetap dipertahankan sebagai pelatih kepala dan akan dibantu oleh pelatih pelaksana harian, baik di timnas U-23 maupun timnas senior. Untuk timnas senior, saya akan mengajukan Jacksen Tiago,” ujar Iman.

Iman menjelaskan, Riedl yang saat ini masih di Austria dan akan kembali ke Indonesia pada 20 April sudah dihubungi mengenai penambahan asisten pelatih. Pada intinya, Riedl tidak masalah. Sistem kerja pelatih harian masih akan dibahas lebih lanjut.

Mengenai potensi protes dari klub yang harus mengganti pelatih secara mendadak, Iman menjelaskan, itu juga bisa menjadi kendala. Apalagi, klub seperti Persija sedang berjuang menembus zona Asia di Liga Super Indonesia, dan Persebaya 1927 bersaing dalam perebutan juara Liga Primer Indonesia.

Kuota pemain timnas

Tono juga meminta pengurus Liga Super Indonesia, Divisi Utama, dan Liga Primer Indonesia untuk menyiapkan 30 pemain berusia di bawah 23 tahun untuk menjadi anggota tim nasional.

Para pemain tim nasional akan menjalani pembinaan karakter di Batujajar pada 1 Mei dan langsung masuk ke pelatnas pada 14 Mei.

”Satlak menambah kuota pemain menjadi 40 orang, tetapi pelatih kepala hanya akan memilih sekitar 18 pemain,” ujar Iman. ( MHD/ ECA/A NG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau