Persiapan un

UN Menyeramkan, Alasan Doa Bersama

Kompas.com - 12/04/2011, 20:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ujian nasional (UN) ternyata menjadi "momok" yang menyeramkan. Tak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi guru yang mendidik dan para orangtua siswa. Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Negeri 68 Jakarta Murisna Helni mengatakan, faktor "menyeramkan" itulah yang menyebabkan pihaknya menggelar doa bersama menjelang UN dalam dua tahun terakhir ini.

"Mulai tahun lalu, kami rutin menggelar doa bersama. Karena UN pada tahun-tahun sebelumnya sangat ekstrem, seperti pencabut nyawa," kata Helni, Selasa (12/4/2011) di Jakarta.

Helni melanjutkan, fenomena menyeramkan ini pula yang membuat pihak sekolah merasa perlu mempersiapkan siswa secara psikologis, salah satunya dengan cara menggelar doa bersama. Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah psikologis, memperkuat mental dan rasa percaya diri. Seperti dikatakan Helni, menggelar doa bersama lebih karena sekolah merasa perlu waspada dengan hal-hal yang tak dapat diduga dalam pelaksanaan UN.

"Ini sebagai bentuk kewaspadaan kami. Membekali siswa secara psikologis agar mentalnya kuat," ujarnya.

Pada pelaksanaannya, doa bersama dilakukan hampir di tiap sekolah, khususnya di Jakarta. Diselingi dengan berbagai kegiatan, sesi motivator, sesi renungan, bahkan sampai sesi puasa bersama.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau