Jeritan keluarga sandera

Berharap Pemerintah Bertindak Cepat

Kompas.com - 13/04/2011, 03:45 WIB

Mata Yunita sembab, tetapi air matanya sudah tidak meleleh lagi, mungkin sudah terperas habis sejak dia mendengar kabar suaminya disandera perompak Somalia. Di antara kesedihan, kini di lubuk hatinya juga berkecamuk kesal dan protes.

”Apa sih susahnya untuk membebaskan suami saya? Perusahaan dan pemerintah kenapa tidak bertindak cepat? Bahkan, perusahaan mulai sulit dihubungi. Ini kan menyangkut nyawa 20 orang?” ucap Yunita Mei Ertikasari, istri Masbukhin, mualim I (pengatur muatan kapal) kapal MV Sinar Kudus yang kini disandera perompak Somalia, saat ditemui pada Selasa (12/4) di rumahnya di Desa Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Kapal MV Sinar Kudus yang dioperasikan PT Samudera Indonesia Tbk dibajak di perairan Somalia dalam perjalanan dari Pomalaa, Sulawesi Selatan, menuju Rotterdam, Belanda. Pembajakan terjadi Rabu (16/3), hampir sebulan silam.

Jeritan minta tolong yang sama muncul dari Supardi (48) dan Raminah (47), orangtua Ariyanto (25), di Magelang, Jawa Tengah. Ariyanto adalah salah seorang kadet mesin kapal di kapal MV Sinar Kudus dan berstatus sebagai mahasiswa Akademi Maritim Yogyakarta yang sedang melaksanakan praktik kerja lapangan (PKL).

Adapun Novi (29), istri Hari Suhairi (30), di Depok, Jawa Barat, mempertanyakan sikap Pemerintah Indonesia yang tidak bertindak cepat seperti Korea Selatan dan Malaysia yang menyelamatkan warganya. Ia berharap suaminya, mualim III di kapal MV Sinar Kudus, segera dibebaskan, apa pun caranya.

Beberapa kali ungkapan kekecewaan meluncur dari bibir Ita, panggilan Yunita. Ia tidak habis pikir, selama ini rasanya anak buah kapal (ABK) itu dibiarkan berjuang sendiri. Bahkan terakhir kali, Senin malam, saat kontak terakhir dengan suaminya, ia diberi tahu bahwa ABK berhasil melobi perompak untuk menurunkan tebusan yang diminta dari sekitar Rp 32 miliar menjadi sekitar Rp 27 miliar.

Ita berpikir apa susahnya pemerintah atau perusahaan membayar tebusan kepada perompak. ”Toh, kapal itu diasuransikan. Muatan kapal itu mencapai Rp 1,5 triliun. Apa tidak bisa dipakai dahulu? Apa Pak Presiden Yudhoyono tidak bisa membantu?” ujar Ita.

Rasa tidak percaya karena lambannya penanganan membuat hati Ita miris. Ia takut sekali jika suami yang menikahinya pada 1999 dan memberinya dua anak, Atriya Puspitasari (8) dan Satriya (6), itu pulang tinggal nama. Apalagi dia pernah mendengar bahwa perompak Somalia itu bengis, kejam, dan tanpa rasa perikemanusiaan terhadap korbannya.

”Padahal, sebelum berangkat saya sempat mengatakan, kenapa ke sana lagi. Katanya, untuk berlayar ke Eropa ibaratnya harus toh nyawa (bertaruh nyawa) karena selain berhadapan dengan lautan luas dan cuaca yang tidak menentu, juga harus menghadapi perompak. Namun, suami saya mengatakan tidak apa-apa. Ini salah satu tugasnya,” kenang Ita.

Kini Ita dan kedua anaknya lebih banyak tinggal di rumah ibundanya, Yatiningsih (60), di Jalan Raya Rembang 336, Ngadiluwih, Kabupaten Kediri.

Biasanya, saking lamanya ditinggal sang ayah berlayar, anak-anak Masbukhin akan malu-malu setiap menjemput ayahnya ke Bandara Juanda. Baru setelah tiba di rumah, keakraban anak-bapak itu diakui Ita akan kembali tercipta.

Novi juga resah sekali. Sama seperti Ita, Novi juga selalu mengikuti informasi dari media massa dan menunggu respons pemerintah. ”Terakhir kali suami saya menelepon, tanggal 31 Maret, dia bilang dalam kondisi aman. Dia cerita kalau semua awak kapal (20 orang) dikawal 35 orang bersenjata,” tutur Novi dalam linangan air mata di rumahnya, Depok.

Begitu menerima informasi dari Kementerian Luar Negeri RI, hari itu juga keluarga Novi berusaha menghubungi perusahaan suaminya. ”Katanya perusahaan bertanggung jawab. Namun, tetap saja, saya tidak tenang. Nyawa suami saya terancam,” katanya.

Sejak disandera 16 Maret lalu, suaminya sempat mengontak dua kali dari kapal MV Sinar Kudus. Pada 31 Maret, perompak meminta uang tebusan 2,6 juta dollar AS. Seiring lamanya waktu, nilai uang tebusan meningkat menjadi 9 juta dollar AS.

Dalam masa penantian, Novi ditemani kakaknya, Vera (31), yang juga bersuami pelaut. ”Saya kasihan, setiap saat dia menangis mengingat suaminya. Makanya, saya temani. Suami saya kan juga pelaut,” katanya.

Hari berada di rumah terakhir pada Desember 2010, itu pun hanya lima jam setelah berlayar sejak Februari 2010. ”Kalau normal, dia pulang bisa tiga sampai empat bulan sekali,” kata Novi. Keluarga Hari tinggal di Jalan Cimandiri VI Nomor 168, Kelurahan Baktijaya, Kecamatan Sukmajata, Kota Depok. Mereka tinggal bersama anak tunggal mereka, Banu Harvi (2).

Sikap berbeda ditunjukkan Supardi dan Raminah, orangtua Ariyanto yang tinggal di Desa Sewukan, Kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah. Mereka tidak terlihat gundah. Keduanya mengaku cukup ditenangkan oleh ungkapan putranya melalui telepon beberapa waktu lalu yang menyatakan bahwa semua sandera diperlakukan dengan baik oleh para perompak.

Namun, Supardi mengimbau agar pemerintah memanfaatkan situasi dan kondisi itu untuk segera membebaskan 20 sandera secara baik-baik.

”Saya berharap pemerintah memilih cara damai dan tidak menggunakan senjata untuk membebaskan para sandera. Serangan menggunakan senjata berbahaya bagi keselamatan para sandera, termasuk anak saya, yang masih berada di sana,” ujar Supardi tentang nasib putra sulung dari tiga bersaudara itu. Ariyanto kebetulan lelaki satu-satunya dari tiga anak pasangan Supardi-Raminah.

Tercatat sebagai mahasiswa Akademi Maritim Yogyakarta, sejak Agustus 2010 posisi Ariyanto sebagai kadet mesin pada kapal dagang itu sebenarnya sebagai mahasiswa yang tengah menjalankan PKL selama satu tahun.

Sekitar 14 Maret, Ariyanto sempat menelepon orangtuanya untuk meminta restu karena akan melanjutkan perjalanan ke Belanda. Namun, dua hari kemudian, 16 Maret, terbetik berita heboh bahwa kapal itu dibajak.

Pada 18 Maret, pegawai dari PT Samudera Indonesia Tbk, pemilik kapal MV Sinar Kudus, mendatangi rumah Supardi dan mengabarkan tentang peristiwa pembajakan kapal serta menginformasikan bahwa semua sandera dalam keadaan baik.

Tanggal 31 Maret, Raminah bersama putrinya, Susanti (21), diundang PT Samudera Indonesia ke Jakarta dan di sana mereka dibantu untuk berkomunikasi langsung dengan Ariyanto.

Dalam perbincangan singkat selama sekitar satu menit itu, Ariyanto mengatakan, dia sehat-sehat saja dan diperlakukan dengan baik oleh para perompak Somalia. Meski diperlakukan baik, keluarga sandera umumnya sepakat, mereka diperlakukan dengan kurang baik oleh pemerintah mereka sendiri karena terlalu lama berdiskusi, tetapi loyo.... (Dahlia Irawati/ Regina Rukmorini/ Andy Riza Hidayat)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau