Mata Yunita sembab, tetapi air matanya sudah tidak meleleh lagi, mungkin sudah terperas habis sejak dia mendengar kabar
”Apa sih susahnya untuk membebaskan suami saya? Perusahaan dan pemerintah kenapa tidak bertindak cepat? Bahkan, perusahaan mulai sulit dihubungi. Ini kan menyangkut
Kapal MV Sinar Kudus yang dioperasikan PT Samudera Indonesia Tbk dibajak di perairan Somalia dalam perjalanan dari Pomalaa, Sulawesi Selatan, menuju Rotterdam, Belanda. Pembajakan terjadi Rabu (16/3), hampir sebulan silam.
Jeritan minta tolong yang sama muncul dari Supardi (48) dan Raminah (47), orangtua Ariyanto (25), di Magelang, Jawa Tengah. Ariyanto adalah salah seorang kadet mesin kapal di kapal MV Sinar Kudus dan berstatus sebagai mahasiswa Akademi Maritim Yogyakarta yang sedang melaksanakan praktik kerja lapangan (PKL).
Adapun Novi (29), istri Hari Suhairi (30), di Depok, Jawa Barat, mempertanyakan sikap Pemerintah Indonesia yang tidak bertindak cepat seperti Korea Selatan dan Malaysia yang menyelamatkan warganya. Ia berharap suaminya, mualim III di kapal MV Sinar Kudus, segera dibebaskan, apa pun caranya.
Beberapa kali ungkapan kekecewaan meluncur dari bibir Ita, panggilan Yunita. Ia tidak habis pikir, selama ini rasanya anak buah kapal (ABK) itu dibiarkan berjuang sendiri. Bahkan terakhir kali, Senin malam, saat kontak terakhir dengan
Ita berpikir apa susahnya pemerintah atau perusahaan membayar tebusan kepada perompak. ”Toh, kapal itu diasuransikan. Muatan kapal itu mencapai Rp 1,5 triliun. Apa tidak bisa dipakai dahulu? Apa Pak Presiden Yudhoyono tidak bisa membantu?” ujar Ita.
Rasa tidak percaya karena lambannya penanganan membuat hati Ita miris. Ia takut sekali jika suami yang menikahinya pada 1999 dan memberinya dua anak,
”Padahal, sebelum berangkat saya sempat mengatakan, kenapa ke sana lagi. Katanya, untuk berlayar ke Eropa ibaratnya harus toh nyawa (bertaruh nyawa) karena selain berhadapan dengan lautan luas dan cuaca yang tidak menentu, juga harus menghadapi perompak. Namun, suami saya mengatakan tidak apa-apa. Ini salah satu tugasnya,” kenang Ita.
Kini Ita dan kedua anaknya lebih banyak tinggal di rumah ibundanya, Yatiningsih (60), di Jalan Raya Rembang 336,
Biasanya, saking lamanya ditinggal sang ayah berlayar, anak-anak Masbukhin akan malu-malu setiap menjemput ayahnya ke Bandara Juanda. Baru setelah tiba di rumah, keakraban anak-bapak itu diakui Ita akan kembali tercipta.
Novi juga resah sekali. Sama seperti Ita, Novi juga selalu mengikuti informasi dari media massa dan menunggu respons pemerintah. ”Terakhir kali suami saya menelepon, tanggal 31 Maret, dia bilang dalam kondisi aman. Dia cerita kalau semua awak kapal (20 orang) dikawal 35 orang bersenjata,” tutur Novi dalam linangan air mata di rumahnya, Depok.
Begitu menerima informasi dari Kementerian Luar Negeri RI, hari itu juga keluarga Novi berusaha menghubungi perusahaan suaminya. ”Katanya perusahaan bertanggung jawab. Namun, tetap saja, saya tidak tenang. Nyawa suami saya terancam,” katanya.
Sejak disandera 16 Maret lalu, suaminya sempat mengontak dua kali dari kapal MV Sinar Kudus. Pada 31 Maret, perompak meminta uang tebusan 2,6 juta dollar AS. Seiring lamanya waktu, nilai uang tebusan meningkat menjadi 9 juta dollar AS.
Dalam masa penantian, Novi ditemani kakaknya, Vera (31), yang juga bersuami pelaut.
Hari berada di rumah
Sikap berbeda ditunjukkan Supardi dan Raminah, orangtua Ariyanto yang tinggal di Desa Sewukan, Kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah. Mereka tidak terlihat gundah. Keduanya mengaku cukup ditenangkan oleh ungkapan putranya melalui telepon beberapa waktu lalu yang menyatakan bahwa semua sandera diperlakukan dengan baik oleh para perompak.
Namun, Supardi mengimbau agar pemerintah memanfaatkan situasi dan kondisi itu untuk
”Saya berharap pemerintah memilih cara damai dan tidak menggunakan senjata untuk membebaskan para sandera. Serangan menggunakan senjata berbahaya bagi keselamatan para sandera, termasuk anak saya, yang masih berada di sana,” ujar Supardi tentang nasib putra sulung dari tiga bersaudara itu. Ariyanto kebetulan lelaki satu-satunya dari tiga anak
Tercatat sebagai mahasiswa Akademi Maritim Yogyakarta, sejak Agustus 2010 posisi Ariyanto sebagai kadet mesin pada kapal dagang itu sebenarnya sebagai mahasiswa yang tengah menjalankan PKL selama satu tahun.
Sekitar 14 Maret, Ariyanto
Pada 18 Maret, pegawai dari PT Samudera Indonesia Tbk, pemilik kapal MV Sinar Kudus, mendatangi rumah Supardi dan mengabarkan tentang peristiwa pembajakan kapal serta menginformasikan bahwa semua sandera dalam keadaan baik.
Tanggal 31 Maret, Raminah bersama putrinya, Susanti (21), diundang PT Samudera Indonesia ke Jakarta dan di sana
Dalam perbincangan singkat selama sekitar satu menit itu, Ariyanto mengatakan, dia sehat-sehat saja dan diperlakukan dengan baik oleh para perompak Somalia. Meski diperlakukan baik, keluarga sandera umumnya sepakat, mereka diperlakukan dengan kurang baik oleh pemerintah mereka sendiri karena terlalu lama berdiskusi, tetapi loyo.... (