Sumbangan kelas menengah

Simpanan Nasabah Kelas Premium Bertambah

Kompas.com - 13/04/2011, 09:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertumbuhan ekonomi telah menciptakan kelas menengah baru yang memiliki tingkat literasi yang tinggi terhadap produk atau jasa perbankan dan keuangan. Kelas menengah ini sudah mengenal baik produk-produk investasi melalui layanan perbankan personal.

Demikian pendapat ekonom BNI, Ryan Kiryanto, kepada Kompas, Selasa (12/4/2011), menanggapi semakin meningkatnya kelas nasabah premium di perbankan. ”Mereka ini ciri-cirinya berpendidikan tinggi, pekerjaan mapan, penghasilan tinggi, melek sosial, politik, dan hukum,” kata Ryan.

Kelompok semacam ini juga memiliki mobilitas tinggi dan sadar kesehatan bank. ”Kelompok ini menjadi target bank-bank yang menawarkan perbankan privat,” kata Ryan.

Data Lembaga Penjamin Simpanan menunjukkan, simpanan nasabah kelas premium, yakni di atas Rp 500 juta, semakin bertambah. Total jumlah simpanan yang terdiri dari tabungan, giro, deposito, sertifikat deposito, dan simpanan lainnya mencapai Rp 1.535 triliun per Februari 2011. Simpanan itu terdiri dari 536.270 rekening.

Pada Februari 2010, simpanan nasabah dengan nilai di atas Rp 500 juta mencapai Rp 1.244 triliun. Artinya, dalam setahun meningkat Rp 291 triliun.

Executive Vice President Product Management Division BNI Diah Sulianto memaparkan, kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menyimpan dana di bank sekaligus berinvestasi turut mendorong pertumbuhan nasabah kelas premium.

Misalnya, pada masa lalu masyarakat terangkat gengsinya dengan memiliki 10 kartu kredit. Namun, saat ini masyarakat lebih memikirkan menyisihkan dana dan berinvestasi untuk menyiapkan dana pendidikan bagi anak-anak mereka.

Layanan nasabah premium di BNI mensyaratkan simpanan minimal Rp 1 miliar. Ada 8.300 nasabah kelas premium, dari total 11 juta nasabah BNI. ”Tahun ini kami akan coba menjaring nasabah kelas premium dari rekening simpanan mulai Rp 500 juta,” kata Diah.

Teliti standar operasional

Kemarin, Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah menyampaikan, BI meminta semua bank untuk meneliti kembali prosedur standar operasional (SOP). Penelitian itu mencakup kekuatan kontrol dan audit dadakan serta kebijakan sumber daya manusia di tempat yang berisiko tinggi di bank.

Kebijakan itu dilakukan BI setelah perbankan Indonesia diguncang pembobolan dana nasabah Citibank oleh karyawan Citibank, Malinda Dee. Menurut Halim, BI telah meneliti sisi manajemen risiko Citibank, termasuk pengawasan oleh atasan.

”Manajemen kontrol mungkin kurang ketat. Rotasi tidak dilaksanakan. Ada kelemahan tidak dilakukan cek dan cek ulang lagi. Mestinya ada audit dadakan juga. Meskipun semua kelihatan baik, kita perlu lihat kewajaran perilaku sumber daya manusia, ini belum dilakukan,” kata Halim.

BI, tambah Halim, menyiapkan sanksi dari sisi administrasi. Termasuk kemungkinan melakukan uji kelayakan dan kepatutan lagi terhadap jajaran manajemen Citibank. Untuk meningkatkan keamanan dan perlindungan terhadap nasabah kelas premium, BI juga sedang membahas langkah-langkah memperketat upaya perlindungan terhadap nasabah ini. (IDR)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau