JAKARTA, KOMPAS.com — Kepergian Ahmad Yani (39) meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarganya. Ahmad merupakan salah seorang korban tewas dalam tawuran yang terjadi Selasa (12/4/2011) malam di Pintu Air I, kawasan Seribu Ruko, Jalan Kamal Raya, Taman Palem, Cengkareng, Jakarta Barat.
"Dia itu anak bungsu. Kesayangan ibu saya. Ke mana saja dia pergi, pasti ditunggui sama ibu saya. Semalam saja, ibu saya berkali-kali nanyain kenapa adik saya belum pulang juga," tutur kakak Ahmad, Roni, kepada Kompas.com, Rabu (13/4/2011).
Ahmad merupakan putra bungsu dari enam bersaudara. Ayahnya meninggal saat Ahmad masih kecil sehingga ia harus bekerja untuk membantun keluarganya. Karena itu pula, Ahmad tidak dapat menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar.
"Keluarga baru tahu kalau adik saya meninggal setelah melihat berita di televisi sekitar pukul 05.00," ujar Roni.
Ibu Ahmad, Dijah, tidak sanggup berkata apa-apa begitu mendengar anaknya telah tiada. Ia begitu larut dalam duka. "Enggak ada orang yang ngasih tau kalau adik saya jadi korban. Katanya ada yang ngeliat dia jatuh, tetapi kok ya enggak ngasih tau orang rumah. Kami tahu dari televisi, adik saya sudah meninggal dan sudah ada di rumah sakit," tutur Roni.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang