Atlet Yunior Dominasi Seleksi

Kompas.com - 14/04/2011, 03:01 WIB

Jakarta, kompas - Atlet yunior mendominasi peringkat atas dalam seleksi degradasi pelatnas panahan SEA Games XXVI. Namun, para debutan yang masih miskin pengalaman itu terancam kekosongan uji tanding selama empat bulan hingga SEA Games digelar 11-22 November mendatang.

Dari seleksi yang berakhir pekan lalu di Surabaya, pemanah yunior mendominasi disiplin olimpiade, yakni recurve putra dan putri. Mereka itu adalah para pemanah berusia belasan tahun, masih pelajar SMA, dan belum pernah terjun di SEA Games.

Di recurve putra, pemanah yunior Riau Ega menyelesaikan tiga tahapan seleksi sebagai juara, Johan Prasetyo di urutan kedua, dan Alex Edward di urutan keempat. Di recurve putri, posisi terbaik juga diisi pemanah yunior Erwina Safitri. Rekannya yang siswi SMA Ragunan, Titik Kusumawardhani, di posisi ketiga.

Adapun atlet senior Dellie T Dinda dan peraih emas SEA Games 2007 I Gusti Nyoman Puruhito Praditya Jati menjadi yang terbaik di compound. Seleksi panahan meloloskan 24 atlet dan menggugurkan enam lainnya.

Menurut Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP Perpani I Gusti Nyoman Budiana, prestasi atlet yunior itu menunjukkan adanya kaderisasi. Apalagi, mereka bertanding pada disiplin olimpiade. ”Kita harus memberi kepercayaan pada atlet yunior,” kata Budiana, Rabu (13/4).

Program pelatnas panahan akan berlanjut dengan pengiriman 16 pemanah terbaik ke Grand Prix Asia di Laos 20 April 2011. Setelah itu, para atlet juga harus mengikuti kualifikasi olimpiade di Turin, Italia, Juli 2011.

Namun, tim pelatnas panahan bakal menghadapi tantangan karena Program Indonesia Emas (Prima) hanya menjatahkan dua uji coba internasional sebagai persiapan SEA Games. Artinya, pasca-Turin, para pemanah bakal menghadapi kekosongan pertandingan hingga SEA Games.

Pertandingan sangat penting untuk mengasah mental bertanding, apalagi bagi atlet yunior. ”Kami sedang mencari jalan. Kami mengajukan proposal kepada PT Perhutani dan PT Bukit Asam yang menjadi bapak angkat cabang panahan. Mudah-mudahan ada solusi,” kata Budiana.

Sentralisasi menembak

Secara terpisah, cabang menembak baru memulai sentralisasi pelatnas SEA Games pada 15 April 2011. Namun, tak seluruh atlet yang terdata masuk tim SEA Games dipanggil berlatih ke Jakarta. Dari 44 atlet yang tergabung dalam tim nasional menembak, hanya 16 atlet yang dipanggil berlatih di Jakarta.

”Ke-16 atlet itu kami panggil karena memiliki skor prestasi tertinggi setahun terakhir. Kami menilai mereka paling berpotensi merebut medali. Sisanya berlatih di daerah masing-masing,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal PB Perbakin Robby Atmadja.

Robby mengatakan, PB Perbakin berencana mengirimkan enam atlet mengikuti pelatihan di China. Diharapkan mereka bertolak pada Juni 2011.(HLN/YNS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau