Ujian nasional

Sejumlah Sekolah Belum Mengirim Nilai

Kompas.com - 14/04/2011, 03:30 WIB

Jakarta, Kompas - Empat hari menjelang pelaksanaan ujian nasional jenjang SMA/MA/SMK sederajat masih ada sekolah di berbagai daerah yang belum mengirimkan nilai sekolah. Padahal, batas akhir pengirimannya 11 April 2011 lalu. Pengiriman nilai sekolah melalui internet dikoordinasikan penyelenggara UN provinsi.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional Mansyur Ramly, Rabu (13/4) di Jakarta, mengatakan, pihaknya sudah mengirim surat ke daerah-daerah yang belum mengirim nilai.

”Nilai sekolah penting karena kelulusan UN ditentukan nilai akhir yang diperoleh dari gabungan nilai UN dan nilai sekolah,” ujarnya. Nilai sekolah diperoleh dari gabungan nilai ujian sekolah dan nilai rata-rata rapor semester 3, 4, dan 5 untuk SMA/MA/SMK sederajat.

”Pembobotan nilai dilakukan pusat. Daerah tinggal kirim nilainya. Sekolah yang tidak menyetor nilai sekolah tidak bisa dinilai. Sekolah rugi sendiri karena hanya UN yang akan menjadi penentu nilai akhir,” ujar Mansyur.

 

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh juga mengingatkan pentingnya nilai sekolah untuk profil sekolah dan distribusi nilai sekolah. Tujuannya untuk membandingkan nilai sekolah dan nilai UN. ”Penting untuk dijadikan justifikasi pada saat pemerintah melakukan akreditasi sekolah,” kata Nuh.

Utama dan susulan

Sebanyak 2,4 juta murid di 25.656 sekolah akan mengikuti UN utama jenjang SMA/MA sederajat pada 18-21 April 2011 dan UN susulan pada 25-28 April 2011. Adapun UN utama jenjang SMK dan SMALB pada 18-20 April 2011 dan UN susulan pada 25-27 April 2011.

”UN susulan untuk peserta didik yang tidak bisa mengikuti UN utama,” kata anggota Badan Standar Nasional Pendidikan, Mungin Eddy Wibowo.

Secara terpisah, dari Sulawesi Selatan (Sulsel) dilaporkan, distribusi soal UN di Sulsel dilaksanakan dalam tiga tahap sejak Selasa malam. Dinas Pendidikan Sulsel mendahulukan mengirim soal ke daerah-daerah yang letaknya jauh, seperti Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur —yang harus ditempuh dengan 12 jam perjalanan darat—lalu Palopo dan Enrekang.

Untuk mengantisipasi kebocoran, soal yang sudah sampai di kabupaten akan disimpan di kepolisian resor masing-masing. Soal akan diserahkan ke sekolah pada H-1.

Pihak sekolah saat ini terus mendampingi anak didiknya menjelang UN. Di SMAN 1 Makassar, sekolah mengadakan doa bersama untuk siswa kelas III SMA sejak pukul 18.30. Sementara itu, murid kelas 12 (III) di SMA Katolik Rajawali mengikuti doa novena berkelompok di kapel sekolah.

”Ketidaklulusan kadang bukan karena ketidakmampuan menjawab, tetapi karena tidak teliti mengisi biodata,” ujar Kepala Sekolah SMA Katolik Rajawali Suster Leoni Tarore.

Kepala Sekolah SMAN 1 Makassar Sakaruddin mengharapkan agar anak didiknya tidak termakan penawaran kunci jawaban soal. ”Belum tentu itu juga kunci yang benar,” ucapnya.

Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, siswa-siswa yang akan mengikuti ujian nasional mengunjungi panti asuhan dan panti wreda untuk kemantapan hati.

Di Surabaya, doa bersama semakin rutin digelar menjelang ujian nasional. Seperti yang dilakukan siswa Taman Perguruan Ta'miriyah Surabaya di Masjid Kemayoran, kompleks Ta'miriyah, Jalan Indrapura Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/4).

Menurut Wakil Kepala SMA Ta'miriyah Sucipto, doa bersama rutin dilakukan menjelang ujian nasional.

Wakil Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono meminta masyarakat tidak terpancing rumor beredarnya soal ujian nasional. Apalagi tahun 2010, Pemerintah Kota Surabaya sempat kesulitan karena beredarnya kunci jawaban palsu.

Pakta kejujuran

Di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, peserta ujian nasional mulai tingkat SD, SMP, hingga SMA sederajat, Rabu (13/4), secara serentak mengikuti apel untuk mengikrarkan pakta kejujuran di sekolah masing-masing. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro Zainuddin menuturkan, kegiatan itu dimaksudkan agar siswa paham betul nilai kejujuran.

Ikrar itu juga dimaksudkan agar siswa peserta ujian nasional, guru, sekolah, maupun pengawas siap melaksanakan ujian nasional dengan jujur.

Di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menjelang ujian nasional, siswa SMA yang akan mengikuti ujian nasional diliburkan selama dua hari. Hal ini dimaksudkan agar siswa bisa istirahat cukup dan dalam kondisi kesehatan yang prima saat ujian nasional.

”Siswa jangan terlalu tegang menghadapi ujian nasional. Setelah menjalani latihan soal, bimbingan, dan ujian sekolah, sudah saatnya siswa beristirahat sehingga kondisi kesehatan dan psikisnya baik,” kata Kepala SMA Negeri I Sooko Mojokerto HM Ali Ismail.(LUK/SIN/WER/ACI/ ETA/ TIF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau