Perlu Pemberdayaan Perempuan dan Gizi

Kompas.com - 14/04/2011, 06:26 WIB

Jakarta, Kompas - Utusan Khusus Presiden untuk Sasaran Pembangunan Milenium Nila Moeloek merekomendasikan agar Indonesia fokus pada aspek pemberdayaan perempuan dan pemenuhan gizi. Hal itu dinilai akan sangat membantu Indonesia memenuhi target penurunan angka kematian ibu.

”Tugas saya membuat rekomendasi untuk menilai MDGs (Millennium Development Goals). Saya melihat ada kesenjangan antara atas dan bawah, terutama terkait nutrisi (gizi) dan peran perempuan,” kata Nila, Rabu (13/4) di Istana Wakil Presiden seusai menyampaikan rekomendasi seputar usaha memenuhi sasaran Pembangunan Milenium (MDGs) kepada Wakil Presiden Boediono.

Ada delapan sasaran MDGs yang harus dicapai oleh 189 negara yang menandatangani, termasuk Indonesia. Salah satu sasaran ialah peningkatan kesehatan ibu. Pencapaian sasaran ini antara lain ditandai dengan keberhasilan sebuah negara mengurangi angka kematian ibu (AKI) melahirkan sampai 75 persen dari angka pada tahun 1990-2015.

Dalam konteks itu, Indonesia memiliki target menurunkan AKI menjadi 110 per 100.000 kelahiran hidup pada 2015. Target ini dinilai cukup sulit dipenuhi karena tahun 2009 Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Pasifik (UNESCAP), Program Pembangunan PBB (UNDP), Yayasan PBB untuk Aktivitas Populasi (UNFPA), dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, terjadi kenaikan AKI melahirkan di Indonesia dari 307 per 100.000 menjadi 420 per 100.000 kelahiran hidup. Namun, Laporan Pencapaian MDGs di Indonesia yang diterbitkan pemerintah pada tahun 2009 menyebutkan, AKI adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup.

Menurut Nila, dalam upaya meningkatkan pemberdayaan, kelompok perempuan harus diberikan informasi, edukasi, dan advokasi sehingga memiliki pengetahuan dan mampu mengambil keputusan. Dengan cara itu, perempuan pun tampil sebagai agen perubahan di dalam keluarga.

Terkait nutrisi, Nila menilai nutrisi jangan selalu diarahkan kepada anak. ”Kita jangan melihat hanya anak yang bisa mengalami kekurangan gizi. Jika ibu hamil mengalami kekurangan gizi, angka kematian ibu akan menjadi tinggi,” kata Nila.

Terkait ketahanan pangan

Nila berpendapat, persoalan nutrisi sangat terkait dengan ketahanan pangan. Namun, ketahanan pangan merupakan porsi tugas pemerintah. ”Artinya, pemerintah perlu memikirkan upaya menciptakan ketahanan pangan. Problem ketahanan pangan bisa mengganggu perempuan dalam rumah tangga. Mereka harus memikirkan bagaimana anaknya bisa makan,” kata dia.

Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan perlu segera diwujudkan, antara lain mendidik perempuan memahami gizi makanan, melakukan diversifikasi pangan, dan menanam tanaman pangan di pekarangan. (ATO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau