Hama

Ulat Bulu Telah Masuk Kabupaten Sleman

Kompas.com - 14/04/2011, 08:47 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Wabah ulat bulu kini sudah masuk wilayah Kabupaten Sleman, tepatnya di kompleks Perumahan Green Aprilia, Ambar Ketawang Gamping. Di kompleks perumahan tersebut Ribuan ulat bulu tiba-tiba menempel dan merayap disejumlah pohon kelapa, dinding, bahkan masuk ke rumah warga. 

Abas (33) warga Green Aprilia mengatakan, ulat bulu tersebut sudah mulai terlihat sejak dua pekan terakir. "Sudah saya semprot, dan saya coba bakar, namun bukannya habis, tapi justru semakin banyak" kata Abas, Rabu (13/4/2011). 

Menurutnya, setidaknya ada tiga jenis ulat yang dijumpai di sekitar kompleks. "Nama pastinya tidak tahu, tapi warga menyebutnya ulat tahu, ulat gendong tempe dan ulat jaran. Warnanya pun bermacam-macam ada yang coklat, ada yang hitam, dan ada yang bulunya putih. dan besarnya, ada yang sebesar jari kelingking" katanya. 

Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Slamet Riyadi Martoyo mengatakan, adanya ulat bulu di perumahan Green Aprilia adalah bagian dari fenomena nasional. "Ini adalah fenomena nasional, tapi ulat bulu yang ada di sini berbeda dengan yang ada di tempat lain. Ulat yang mewabah di Sleman jenis uler jaran," kata Riyadi.

Lebih lanjut ia mengatakan, ulat bulu tersebut tidaklah mengkhawatirkan sebab jumlahnya tidak terlalu banyak. Selain itu, jenisnya bukanlah varietas baru melainkan yang sudah lama dikenal, yang biasa menyerang kedelai dan kacang. 

Dia menjelaskan, dalam kondisi iklim lembab pertumbuhan ulat bulu sangat cepat. Selain itu, predator seperti ayam dan burung kian berkurang jumlahnya sehingga tidak ada keseimbangan. "Ulat ini dulu menjadi santapan ayam dan burung. Namun begitu populasi ayam kampung dan burung berkurang, tidak ada lagi predator yang menghambat pertumbuhan ulat ini" katanya. 

Untuk sementara, ujar dia, penyebaran ulat bulu tidak bisa dihambat dengan sistem apapun. Sebab daya jangkaunya tidak bisa dibatasi dan tidak bisa diprediksi. Oleh karena itu, ia meminta agar masyarakat segera melapor ke Dinas Pertania jika melihat wabah ulat bulu di lingkungannya. "Setidaknya kita bisa melakukan penyemprotan untuk menghambat laju pertumbuhannya, " kata Riyadi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau