Minuman keras

Pesta Kemenangan Berbuntut Kematian

Kompas.com - 14/04/2011, 10:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Empat pemuda tewas setelah menenggak minuman keras di kolong jembatan Grogol ketika merayakan kemenangan calon dalam pemilihan ketua rukun tetangga.

Keempat pemuda yang tewas itu adalah E, JP, HS, dan A. Mereka adalah warga RT 8, Kelurahan Grogol, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Mereka tewas satu per satu, dari Senin hingga Selasa (12/4/2011).

Penyidik Polsek Metro Tanjung Duren, Jakarta Barat, sudah memeriksa sejumlah saksi, termasuk Hm (ketua RT 8 yang terpilih untuk keempat kali) dan AB (40-an), penyedia minuman keras jenis Mansion.

Pesta minuman keras ini digelar untuk merayakan kemenangan Hm yang terpilih menjadi ketua RT 08 untuk keempat kali. Satu periode jabatan adalah selama tiga tahun.

”Disesalkan juga mengapa harus merayakan kemenangan posisi publik itu dengan minuman keras. Seharusnya memberi contoh yang baik,” tutur Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Metro Tanjung Duren Ajun Komisaris Johari Bule, Rabu (13/4/2011).

Pesta minuman keras itu digelar hingga larut malam. Tidak kurang 48 botol minuman keras berukuran sedang habis mereka tenggak.

Seusai pesta, mereka kembali ke rumah masing-masing. Sesampai di rumah, dua peminum, E dan JP, tidak sadarkan diri. Keduanya sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun, belum sempat dilakukan tindakan, kedua korban tewas.

Esok hari, HS meninggal di rumah sakit. Selasa malam, A meninggal di rumah sakit yang sama. ”Dua warga lain masih dirawat di rumah sakit,” kata Johari.

AB mengaku membeli minuman keras itu dari seorang pelaut di pasar ikan, Muara Angke, Jakarta Utara, September 2010. ”Saya sama sekali tidak bermaksud buruk hingga menyebabkan mereka meninggal. Saya merasa bersalah,” tutur AB.

Hm mengaku tidak ikut menenggak minuman keras itu. Namun, dia sempat melihat beberapa warga sempat mencampur minuman keras itu dengan beberapa minuman berkarbonasi. Dia juga tidak merencanakan merayakan kemenangannya itu dengan minuman keras. Peristiwa itu terjadi begitu saja secara spontan.

Pemilihan ketua RT dilaksanakan Minggu pagi yang diikuti dua calon. Dari sekitar 200 warga yang menggunakan hak suara, Hm memperoleh lebih dari 60 persen suara, mengungguli calon lain. Sebelumnya juga ada kampanye kecil-kecilan untuk memenangkan kembali Hm.

”Saya memang terpanggil untuk melayani warga saja. Makanya, saya tetap mau maju dan begitu senang bisa kembali terpilih,” tutur Hm yang sehari-hari bekerja di bagian pemasaran produk karoseri mobil.

Beberapa keluarga korban yang berada di Polsek Tanjung Duren enggan berkomentar terkait dengan kejadian yang menimpa mereka. Kendati demikian, mereka tidak mempermasalahkan kasus tersebut.

”Keluarga korban menganggap kejadian itu musibah sehingga tidak mau menuntut atau melapor,” tutur Johari.

Kepolisian masih kesulitan menetapkan tersangka atas kasus tersebut. Namun, menurut Johari, polisi tetap akan menyelidiki kejadian ini karena terkait dengan hilangnya nyawa empat orang.

Polisi juga belum bisa memastikan penyebab kematian keempat orang yang menenggak minuman keras itu. Namun, dari keterangan yang dihimpun penyidik, sebelum meninggal, para penenggak minuman keras itu memiliki tekanan darah tinggi, jauh melebihi batas tekanan darah yang normal.

Polisi menduga, para korban juga tidak hanya sekali menenggak minuman itu, tetapi terusmenerus, mulai dari siang, sore, hingga malam, sehingga dampaknya terakumulasi.

”Untuk lebih jelasnya, masih kami periksa. Selain itu, polisi juga masih menunggu hasil otopsi,” ujar Johari.

Camat Grogol Petamburan Tajudin Widodo juga belum mengetahui duduk soal perayaan pemilihan ketua RT yang berujung dengan bencana ini.

Bermaksud merayakan malah berujung kematian. (Windoro Adi/Antony Lee)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau