Awas, Malaysia Lirik Angklung

Kompas.com - 15/04/2011, 09:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Saung Angklung Udjo (SAU) ternyata buka stan di Indonesia Travel & Holiday Fair (ITHF) 2011 yang bertempat di Central Park, Jakarta. Pemandangan ini jarang terjadi karena sebelumnya mereka tidak terbiasa ikut berpartisipasi dalam pameran wisata.

"Tahun ini kita memang banyakin promo, massive promotion. Kita akan sering ikutan pameran. Selama ini kita word of mouth saja. Kami ingin supaya ada awareness bahwa angklung bukan hanya milik Jabar saja, Tapi Indonesia," kata Head of Marcom Nani Hastuti kepada Kompas.com, Kamis (14/4/2011).

Ia menuturkan selama ini SAU hanya dikenal dari pentas angklungnya saja. Padahal, lanjutnya, mereka punya beragam aktivitas. "Kita ada produksi angklung, suvenir, pelatihan untuk belajar angklung, dan guesthouse," katanya.

Guesthouse tersebut biasa diinapi oleh para pelajar yang ingin belajar angklung. Namun masyarakat umum yang ingin mencari suasana pedesaan pun bisa menginap di sini. "Pendopo kami satu-satunya di Jawa Barat yang performance sampai 3-4 sehari. Ini di luar pentas eksternal loh," ujarnya.

Ia menjelaskan SAU gencar promosi angklung ke orang Indonesia sebagai bagian dari pelaksanaan mandat yang diberikan Unesco, dimana Unesco memang telah memasukkan angklung sebagai intangible heritage.

"Verifikasinya itu di Saung Udjo. Unesco memberikan Indonesia empat mandat, yaitu terlindungi dan terpelihara. Serta ter-regenerasi dan terpromosi, di sini peran komunitas angklung. Media juga harus berperan dalam promosi," ungkapnya. Ia menambahkan penilaian Unesco ini dilakukan setiap tahun.

Ia menuturkan orang luar negeri lebih kenal SAU daripada orang domestik. Padahal menurut Nani, SAU merupakan salah satu ikon pariwisata di Jawa Barat. "Kita tertolong isu Malaysia mengklaim dan juga penetapan oleh Unesco.  Kita jadi dilirik pemerintah gara-gara itu," katanya.

Soal klaim Malaysia, Nani menceritakan hingga kini Malaysia masih 'melirik-lirik'. "Kalau kita tidak bisa menjalankan mandat, Unesco akan mencabut penetapan itu. Dan mereka (Malaysia) yang ambil," katanya. Kecurigaan Nani beralasan karena pernah suatu kali SAU diundang pentas ke Malaysia. "Setelah selesai tampil, MC memperkenalkan kita dari Malaysia. Kita langsung pulang," ceritanya.

Nani juga menyayangkan makin banyak perajin angklung yang pindah bekerja membuat angklung di Malaysia. "Karena itu, program tahun ini gencar ikut pameran. Mayoritas yang datang ke kita itu rombongan sekolah dan perusahaan. Kita mau tingkatkan yang walk-in. Selama ini wisatawan domestik nggak aware dengan Saung Angklung Udjo saat berkunjung ke Bandung," tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau