Lahar dingin

Banjir Lahar Dingin Rusak Lahan 10 Ha

Kompas.com - 15/04/2011, 17:13 WIB

BOYOLALI, KOMPAS.com — Banjir lahar dingin yang mengalir dari hulu Gunung Merapi mengakibatkan merusak sekitar 10 hektar lahan pertanian di sekitar Kali Juweh, Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

"Kami telah mendata jumlah lahan pertanian sayuran di sepanjang aliran sungai berhulu Merapi di Desa Jrakah itu. Yang rusak diperkirakan sekitar 10 hektar," kata Tumar, Kepala Desa Jrakah, di Boyolali, Jumat (15/4/2011).

Menurut dia, lahan pertanian tersebut merupakan tanah milik desa yang digarap oleh petani setempat. Lahan yang sudah ditanami sayur mayur itu hancur terbawa lahar dingin beberapa waktu lalu.

"Lahan itu merupakan salah satu penghasilan gaji perangkat desa setempat. Lahan khas desa yang longsor mencapai enam hektar, sedangkan sisanya milik warga sekitar," katanya.

Menurut dia, sejak bencana erupsi hingga peristiwa banjir lahar dingin, perangkat desa hanya mengandalkan gaji dari pemerintah karena lahan pertanian mereka sudah rusak terbawa banjir.

"Kami sudah melakukan pengecekan ke lokasi untuk didokumentasi. Kerugian dari lahan khas desa longsor ini mencapai sekitar Rp 125 juta," katanya.

Ia mengharapkan pemerintah daerah setempat mengganti tanah khas desa yang longsor.

Pihaknya akan mengadakan rapat desa untuk membahas masalah tersebut. Hasil rapat dapat disampaikan ke Pemkab guna mencari solusi.

Menurut Tumari, longsor tersebut juga mengakibatkan para petani gagal panen.

"Warga menggarap sayur mayur yang siap panen. Akhirnya mereka hanya bisa gigit jari karena sayuran ikut longsor terbawa lahar dingin," katanya.

Para petani yang menggarap tanah kas desa akhirnya tidak bisa apa-apa dan mereka tidak mampu menyetorkan pajak hasil panen ke desa setempat.

Ia menjelaskan, pengelohan tanah milik desa di Jrakah tidak menggunakan sistem lelang. Warga dipersilakan menggarap lahan itu dan hanya dikenai kewajiban menyetor sebagian hasil panennya.

"Tanah khas desa di sini tidak laku dilelang. Maka dari itu, warga sekitar dipersilakan mengolah lahan tersebut," katanya.

Tanah yang longsor akibat lahar dingin merupakan lahan produktif sehingga mayoritas petani Merapi hanya mengandalkan hasil pertanian dan peternakan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau