HPP Gabah Sudah Tidak Relevan

Kompas.com - 15/04/2011, 20:47 WIB

MADIUN, KOMPAS.com — Petani di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, menilai harga pokok pembelian gabah yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar Rp 2.640 per kilogram gabah kering panen sudah tidak relevan untuk saat ini. Alasannya, harga tersebut tidak mampu menutup biaya produksi petani yang membengkak akibat cuaca ekstrem.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Madiun Suharno meminta pemerintah segera merevisi harga pokok pembelian tersebut. Menurut dia, HPP pemerintah idealnya di atas Rp 3.000 per kg untuk GKP supaya petani dapat menikmati margin atau keuntungan atas jerih payah mereka selama musim tanam.

Manfaat lain, dengan naiknya HPP, Perum Bulog diharapkan memiliki kemampuan untuk menyerap gabah dan beras petani secara maksimal sehingga kebutuhan bahan pangan bagi masyarakat dapat dipenuhi.

Dengan dipenuhinya stok Bulog, pemerintah tidak perlu lagi melakukan impor beras dari luar negeri sehingga harga beras petani tetap stabil.

Suharno mengatakan, dengan harga gabah Rp 2.640 per kg di sawah saat ini, hanya mampu untuk menutup biaya produksi petani dalam kondisi normal. "Persoalannya saat ini usaha pertanian sedang terdampak perubahan cuaca ekstrem sehingga memerlukan biaya tambahan," katanya.

Biaya tambahan ini di antaranya diperlukan untuk membeli pestisida guna mengatasi serangan hama dan penyakit yang mengganas akibat cuaca ekstrem. Misalnya, serangan hama sundep dan hama keong mas.

Selain itu, petani juga memerlukan tambahan biaya untuk pemupukan dan tenaga kerja penggarap untuk membersihkan gulma yang berkembang pesat pada musim hujan seperti ini.

Sementara itu, luas areal panen di wilayah Madiun dan sekitarnya saat ini mulai habis. Seiring dengan habisnya masa panen itu, harga beras mulai merangkak naik di pasar. Kenaikan terbesar terjadi pada beras dengan kualitas premium. Sedangkan beras biasa, seperti IR-64, yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, harganya relatif stabil di kisaran Rp 5.600-Rp 5.800 per kg.

Kenaikan beras premium berada di kisaran Rp 200 per kg. Sebagai gambaran, beras jenis Menthik yang sebelumnya berada di kisaran Rp 7.400 per kg naik menjadi Rp 7.600 per kg. Adapun beras jenis Bengawan dan Pandanwangi yang sebelumnya dijual Rp 7.600 per kg naik menjadi Rp 7.800 per kg.

Sejumlah pedagang beras di Madiun yang ditemui mengatakan, kenaikan dipicu menipisnya stok beras di petani. Namun, untuk stok beras di perusahaan penggilingan relatif masih banyak.

Oleh karena itu, kenaikan tidak terjadi pada beras kemasan kelas menengah, seperti Rajalele dan Ciherang yang dijual di kisaran Rp 6.300 per kg hingga Rp 6.500 per kg.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau