Pangkal Pinang, Kompas
Koordinator Forum Lingkar Studi Progresif Babel (FLSPB), Andira, menuturkan, pengumpulan tanda tangan dimulai dari Desa Kemang Masam dan Desa Air Putih. ”Kedua desa itu direncanakan sebagai lokasi pembangunan PLTN,” tuturnya di Muntok.
FLSPB menyampaikan sejumlah dampak PLTN di beberapa negara. Pasalnya, selama ini banyak masyarakat tidak tahu wilayah mereka akan dijadikan lokasi pembangunan PLTN. ”Sosialisasi sangat terbatas dan lebih sering hanya menyampaikan kebaikan-kebaikan PLTN saja. Tidak disinggung bahaya-bahaya seperti radiasi radioaktif dan ledakan seperti di Jepang sekarang,” tutur Andira.
Pegiat Laskar Bangka Belitung Tolak Nuklir, Fahrizan, mengatakan, di Desa Permis, Bangka Selatan, pihaknya memutar dampak ledakan reaktor Chernobyl. Desa ini juga direncanakan sebagai lokasi pembangunan PLTN. ”Kami ingin memberi pandangan lain soal PLTN kepada masyarakat setempat,” ujarnya.
Sebelumnya, oleh pemerintah sebagian tokoh masyarakat desa itu dikumpulkan di Toboali, ibu kota Bangka Selatan. Di sana ada sosialisasi soal PLTN yang lebih banyak berisi dampak negatif. ”Masyarakat Permis dijanjikan bisa bekerja di PLTN. Tidak pernah dijelaskan apa kriteria calon pekerja PLTN. Masyarakat hanya dibuai mimpi,” ujarnya.
Laskar Bangka Belitung Tolak Nuklir (B-TON) juga menggandeng beberapa kelompok masyarakat untuk mengampanyekan penolakan PLTN di Babel.
Mereka juga memasang aneka poster dan spanduk penolakan PLTN di berbagai kabupaten di Babel. ”Kami butuh listrik, bukan nuklir,” tuturnya.