DAMASKUS, KOMPAS.com - Seorang polisi Suriah tewas, kata media pemerintah, Sabtu (16/4/2011). Sementara protes menuntut kebebasan dan reformasi terus meluas sebulan setelah dimulai di negara itu.
Kendatipun janji-janji reformasi oleh Presiden Bashar al Assad yang membentuk pemerintah baru, Kamis, protes-protes Jumat melanda beberapa kota besar dan kota kecil di seluruh Suriah, terutama di timur laut yang banyak dihuni warga Kurdi.
Imbauan internasional yang dipimpin Amerika Serikat kepada Suriah agar menghentikan tindakan keras tampaknya diabaikan pihak berwenang. Sementara, para aktivis hak asasi manusia mengungkapkan tentang penindasan di beberapa tempat, Jumat.
Kantor berita resmi SANA mengatakan, seorang polisi tewas ketika aksi kekerasan yang timbul dalam demonstrasi antipemerintah di kota industri Homs, Suriah tengah. "Polisi itu tewas dalam unjuk rasa di Homs setelah shalat Jumat. Ia dipukul dengan kayu dan batu," kata kantor berita itu, Sabtu, dan menambahkan ia akan dikebumikan Sabtu siang.
Di Homs, polisi menghalau sekitar 4.000 orang yang meneriakan "kebebasan, kebebasan", kata aktivis politik Najatai Tayara kepada AFP melalui telepon.
Persis sebulan setelah protes pertama dilakukan di Damaskus menyerukan pembebasan para tahanan politik, puluhan ribu orang kembali turun ke jalan-jalan di seluruh Suriah menuntut kebebasan yang lebih luas.
Tidak kurang dari 3.000 pemrotes berunjuk rasa di tengah kota Daraa, pusat protes, di Suriah selatan, di mana pasukan keamanan menembak mati setidaknya tujuh orang sepekan sebelumnya. "Antara 2.500 dan 3.000 orang berunjuk rasa di daerah Al Saraya di tengah kota itu meneriakkan slogan yang mendukung kebebasan dan menentang rezim itu," kata seorang aktivis.
Pasukan keamanan mengawasi saat para pemrotes meneriakkan, "Lebih baik mati daripada dihina."
Hassan Berro, seorang aktivis di kota Qomishli yang berpenduduk mayoritas etnik Kurdi, mengatakan, sekitar 5.000 orang keluar dari sebuah masjid di sana untuk melakukan unjuk rasa untuk menunjukkan solidaritas pada penduduk Daraa dan Banias.
Banias di pantai Mediterania, yang dihuni warga Sunni, Muslim Alawi dan Kristen, adalah satu pusat protes lainnya di mana pasukan pemerintah membunuh setidaknya empat orang, Minggu. "Dengan empat nyawa dan darah kami, kami siap mengorbankan jiwa kami untuk Anda Daraa," teriak para pemrotes di Qamishli sambil mengacungkan bendera-bendra Suriah.
Sekitar 4.500 lainnya berunjuk rasa di tiga permukiman Kurdi Ras al Ain, Amuda, dan Derbassiye, dekat Qamishli, kata Berro kepada AFP.
Sekitar 1.000 orang berunjuk rasa di kota pantai Latakia di barat laut, sementara di Jobar, utara Damaskus, polisi menggunakan pentungan dan gas air mata bentrok dengan sekitar 2.000 pengunjuk rasa, kata para aktivis HAM.
Sementara, sekitar 50 pemrotes terlibat bentrok dengan polisi di Barz, dekat Damaskus dengan melemparkan batu ke mereka, kata aktivis HAM, Abdel karim Rihawi.
"AS dan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengimbaau Pemerintah Suriah menghentikan penekanan mereka terhadap rakyat mereka dan mulai menanggapi aspirasi-aspirasi mereka," kata Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton di Berlin, Jumat.
Satu pernyataan yang dikeluarkan PBB di Geneva adalah mengecam tindakan berdarah rezim itu terhadap aksi protes-protes tersebut.
Unjuk rasa pada Jumat itu terjadi sehari setelah Suriah mengumumkan amnesti bagi sejumlah tahanan yang ditahan sebelum protes-protes dan mengumumkan suatu kabinet baru menggantikan kabinet lama yang dibubarkan bulan lalu. Tetapi masih belum ada tanda-tanda Bashar akan segera mencabut undang-undang darurat yang diberlakukan Partai Baath yang berkuasa dan mantan pemimpinnya, Hafez al Assad (almarhum), ayah presiden sekarang yang meninggal pada tahun 2000.
Pada Kamis, kelompok HAM dari Human Rights Watch menuduh pasukan keamanan dan dinas intelijen Suriah menyiksa ratusan pemrotes yang ditahan sejak unjuk rasa itu dimulai.