PM Pakistan: AS, Stop Serangan Pesawat!

Kompas.com - 19/04/2011, 02:06 WIB

ISLAMABAD, KOMPAS.com — Perdana Menteri Pakistan Yousuf Raza Gilani, Senin (18/4/3011), mendesak Amerika Serikat menghentikan serangan pesawat tak berawak di Pakistan.

Ia menuntut Washington seharusnya membagi informasi intelijen agar Islamabad bisa mengambil tindakan sendiri untuk memerangi teror.

Dalam pernyataan di majelis rendah parlemen Pakistan, Dewan Nasional, setelah bertemu dengan Ketua DPR AS John Boehner di Islamabad, Gilani mengatakan, "Saya mengatakan kepadanya bahwa Anda harus menghormati upaya-upaya politik dan militer kami jika Anda ingin berhasil (dalam perang melawan teror)."

Boehner, yang memimpin delegasi enam anggota Kongres dalam kunjungan dua hari, juga bertemu dengan pemimpin militer Pakistan, Jenderal Ashfaq Kayani, dan Duta Besar AS Cameron Munter.

"Saya mengatakan kepadanya bahwa AS harus mengalihkan teknologi pesawat tak berawak ke Pakistan jika mereka sungguh-sungguh ingin memerangi militan," katanya, dalam pernyataan yang disiarkan televisi kepada parlemen, tanpa penjelasan lebih lanjut.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan kantor perdana menteri kemudian mengutip Gilani mengatakan, AS harus menghentikan serangan pesawat tak berawak dan membagi informasi intelijen tepercaya untuk memungkinkan Pakistan mengambil tindakan sendiri terhadap teroris.

Serangan pesawat tak berawak telah mengobarkan sentimen anti-AS setelah Gedung Putih belum lama ini mengecam upaya Pakistan dalam mengalahkan Taliban di kawasan suku di wilayah yang berbatasan dengan Afganistan.

AS pada 2010 menggandakan serangan rudal di kawasan suku Pakistan, dan lebih dari 670 orang tewas dalam sekitar 100 serangan sepanjang tahun itu. Pada 2009, sebanyak 45 serangan serupa, menurut hitungan AFP, menewaskan 420 orang.

Para pejabat AS mengobarkan perang dengan pesawat tak berawak terhadap para komandan Taliban dan Al Qaeda di kawasan suku barat laut, tempat militan bersembunyi di daerah pegunungan yang berada di luar kendali langsung Pemerintah Pakistan.

AS menyebut kawasan suku Pakistan sebagai markas global Al Qaeda dan salah satu tempat paling berbahaya di Bumi.

Pejabat-pejabat AS mengatakan, pesawat tak berawak merupakan senjata yang sangat efektif untuk menyerang kelompok militan. Namun, korban sipil yang berjatuhan dalam serangan-serangan itu telah membuat marah penduduk Pakistan.

Pakistan mendapat tekanan internasional yang meningkat agar mereka menumpas kelompok militan di wilayah barat laut dan zona suku di tengah meningkatnya serangan-serangan lintas-batas gerilyawan terhadap pasukan internasional di Afganistan.

Kawasan suku Pakistan, terutama Bajaur, dilanda kekerasan sejak ratusan anggota Taliban dan gerilyawan Al Qaeda melarikan diri ke wilayah itu setelah invasi pimpinan AS pada akhir 2001 menggulingkan pemerintah Taliban di Afganistan.

Pasukan Pakistan melancarkan serangan udara dan darat ke kawasan suku Waziristan Selatan pada 17 Oktober 2009. Mereka mengerahkan 30.000 prajurit yang dibantu jet tempur dan helikopter bermeriam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau