Ketenagakerjaan

Indonesia Krisis Pekerja Terampil

Kompas.com - 20/04/2011, 04:13 WIB

Jakarta, Kompas - Pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan pasar domestik yang besar telah meningkatkan peluang kerja di lima sektor kunci. Akan tetapi, kalangan pemimpin perusahaan besar mengeluhkan kesulitan memperoleh pekerja terampil sesuai kebutuhan.

Hasil survei konsultan sumber daya manusia yang berbasis di Amerika Serikat, Kelly Services, yang disampaikan di Jakarta, Selasa (19/4), lima sektor industri yang membutuhkan banyak pekerja dalam lima tahun ke depan di Indonesia adalah produk konsumer, otomotif, energi, keuangan, dan industri berteknologi tinggi. Pertumbuhan permintaan pekerja terampil setiap sektor berkisar antara 10 persen dan 12 persen per tahun.

Tingkat permintaan tertinggi terjadi di sektor produk konsumer. Perkembangan kelompok menengah Indonesia dengan dominasi penduduk berusia muda dalam 237 juta jiwa penduduk memacu pertumbuhan industri produk konsumer dan otomotif.

Walau demikian, kesenjangan pendidikan dan pasar kerja membuat perusahaan-perusahaan besar Indonesia kesulitan merekrut pekerja terampil level menengah. Hal ini akibat pekerja terampil Indonesia sudah lebih dulu pindah ke luar negeri untuk mencari peluang yang lebih besar beberapa tahun sebelumnya.

Secara umum, krisis pekerja terampil ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah negara dengan pertumbuhan ekonomi mengagumkan, seperti Singapura, India, dan China, juga mengalami hal serupa. ”Kondisi ini juga membuat pemerintah mulai melonggarkan migrasi pekerja untuk memenuhi kebutuhan. Pemerintah harus membuat kebijakan yang mampu menarik para pekerja berbakat di luar negeri untuk kembali ke dalam negeri,” ujar Wakil Presiden Senior Kelly Services untuk Asia Pasifik Dhirendra Shantilal.

Permintaan pekerja terampil juga semakin tinggi sejak perusahaan-perusahaan multinasional mengalihkan unit-unit usaha mereka ke negara-negara yang berdaya saing tinggi. Citibank, bank asal Amerika Serikat, kini mengalihkan unit layanan telepon pelanggan mereka dari India ke Filipina, yang juga mampu berbahasa Inggris dengan baik, untuk menekan biaya operasi.

Menurut Dhirendra, perubahan sistem pendidikan yang mulai memperkenalkan bahasa asing sejak pendidikan dasar akan mengubah kondisi Indonesia dalam 10 tahun mendatang. Indonesia akan menghasilkan pekerja-pekerja muda berdaya saing tinggi dan mengisi pasar kerja di luar negeri.

Direktur PT Kelly Services Indonesia Bernadette R Themas menambahkan, selama ini kekosongan manajemen level menengah atau puncak diisi pekerja asing. Sebagian di antara mereka merupakan pensiunan dari perusahaan sejenis.

Dalam kesempatan ini, Kelly Service juga meluncurkan survei gaji berbagai profesi. Gaji pekerja baru lulus sekolah di Indonesia berkisar Rp 3 juta-Rp 8 juta per bulan dan di Vietnam 300-500 dollar AS (Rp 2,6 juta-Rp 4,3 juta).

Jabatan kepala internal audit sektor perbankan berkualifikasi strata satu berpengalaman lebih dari 10 tahun bergaji minimal Rp 45 juta-Rp 75 juta per bulan. Manajer penjualan berpengalaman 5-7 tahun bergaji Rp 17,5 juta-Rp 25 juta per bulan. Manajer iklan berpengalaman 4-5 tahun bergaji Rp 8 juta-Rp 15 juta per bulan. (HAM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau