Ketenagakerjaan

Lagi, 131 TKI Dideportasi ke Nunukan

Kompas.com - 20/04/2011, 10:23 WIB

NUNUKAN, KOMPAS.com - Kepala Sub Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, Hasan Basri mengatakan sebanyak 131 orang tenaga kerja Indonesia kembali dideportasi dari Malaysia.

"Para tenaga kerja Indonesia itu tiba di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, Selasa sekitar pukul 18. 30 WITA, dengan menggunakan KM Purnama Ekspres," katanya di Nunukan, Rabu (20/4/2011).

Menurut dia, ke-131 orang TKI yang dideportasi itu, dua di antaranya masih anak-anak, 27 perempuan dan 97 laki-laki. "Sebelum dideportasi, mereka terlebih dulu ditahan di pusat tahanan sementara (PTS) Tawau, Malaysia," katanya.

Selain masa berlaku paspornya habis, sebagian TKI itu dideportasi karena tidak memiliki dokumen sah. "Satgas Penanggulangan TKI Bermasalah yang terdiri atas pejabat imigrasi, kepolisian, BP3TKI dan Disnaker Pemkab Nunukan tengah mendata mereka," katanya.

Setelah didata para TKI itu akan segera dipulangkan ke daerah asal masing-masing. "Bagi mereka (TKI) yang punya keluarga, akan tinggal sementara di Nunukan, namun yang tidak ada keluarga akan ditampung di PJTKI atau Kantor Disnakertrans," katanya.

Para TKI yang akan kembali bekerja di Malaysia diminta mengurus dokumen atau paspor. "Deportasi TKI dari Tawau, Malaysia ini memang sudah sering terjadi, bahkan hampir setiap minggu," kata Hasan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau