Pariwisata

Jatim Berambisi Kalahkan Bali

Kompas.com - 20/04/2011, 17:42 WIB

NGAWI, KOMPAS.com — Industri pariwisata Jawa Timur berambisi mengalahkan industri pariwisata Bali yang lebih dahulu mendunia. Dengan sejumlah destinasi unggulan yang tidak kalah menarik, Jawa Timur berharap mampu menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara, bukan sebagai destinasi sekunder seperti yang terjadi selama ini.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Jarianto, mengatakan, Jatim memiliki destinasi unggulan yang siap dijual kepada wisatawan asing. Destinasi ini, antara lain, Gunung Bromo dengan aktivitas vulkaniknya, Kawah Ijen di Bondowoso, wisata perkebunan di Kalisat Kabupaten Jember, serta pesona Alas Purwo di Banyuwangi. Di tambah lagi Pantai Plengkung dan Pantai Grajagan di Banyuwangi.

"Kedua lokasi wisata pantai ini lebih banyak dikenal oleh wisman yang berkunjung di Bali. Mereka pun masuk melalui Bali dibandingkan melalui Banyuwangi," ujar Jarianto saat ditemui di Museum Trinil, Kabupaten Ngawi, Rabu (20/4/2011).

Jarianto mengatakan, pihaknya menargetkan kedatangan wisman sebanyak 177.332 orang pada tahun 2011 atau mengalami kenaikan sebesar 5 persen dari jumlah wisman yang berkunjung selama tahun 2010. Jumlah ini merupakan wisman yang tercatat masuk melalui Bandara Juanda, Surabaya.

Sedangkan wisman yang berkunjung ke Jawa Timur tidak hanya masuk melalui Bandara Juanda Surabaya, melainkan sejumlah pintu masuk lain. Di antaranya, Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi atau menempuh perjalanan darat dari Yogyakarta melalui Kabupaten Ngawi. Pada tahun 2010, jumlah wisman yang berkunjung ke Jatim, di luar yang melalui Bandara Juanda, tercatat mencapai 35.000 orang.

Selama 2010, lanjut Jarianto, industri pariwisata Jatim berkembang pesat. Salah satu indikatornya, jumlah kunjungan wisman maupun wisatawan Nusantara yang mengalami kenaikan sebesar 21,2 persen dibandingkan jumlah kunjungan selama tahun 2009. Dinas Pariwisata mencatat jumlah kunjungan wisnus mencapai 24,398 juta orang.

Adapun destinasi yang paling diminati oleh wisatawan lokal adalah wisata religi, seperti makam Sunan Bonang di Kabupaten Tuban, Syeh Maulana Malik Ibrahim di Kabupaten Gresik, makam Sunan Ampel di Surabaya, serta wisata hiburan seperti Wisata Bahari Lamongan dan Kebun Binatang Surabaya.

Menurut Jarianto, industri pariwisata sejatinya memiliki peluang besar sebagai penggerak ekonomi daerah apabila digarap secara serius. Sebagai gambaran, pada tahun 2010, industri pariwisata Jatim mencatatkan pendapatan sebesar Rp 48,12 triliun atau sekitar 6,18 persen kontribusinya terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) sebesar Rp 778,89 triliun.

Melihat peluang tersebut, Dinas Pariwisata mengklaim telah menyiapkan sejumlah langkah untuk meningkatkan geliat industri pariwisata pada tahun ini. Salah satunya meningkatkan promosi melalui berbagai media dan menggalang kerja sama dengan pemerintah provinsi lain, utamanya Bali, yang menjadi salah satu pintu gerbang masuknya wisman ke Tanah Air.

Sedangkan langkah internal yang ditempuh, antara lain, memperbaiki sarana fisik di lokasi tujuan wisata dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang bekerja di dalamnya. Lebih jauh lagi, Jarianto bercita-cita memberdayakan masyarakat di Jatim sebagai pemandu wisata tidak langsung bagi wisatawan.

Majapahit Park

Provinsi Jatim memiliki sedikitnya 761 obyek wisata yang sudah dipromosikan. Jumlah tersebut belum termasuk obyek wisata di kawasan hutan yang jumlahnya mencapai ratusan obyek. Pada tahun 2011, pemerintah berniat menambah obyek wisata dengan membangun kawasan wisata sejarah Majapahit Park di Kabupaten Mojokerto.

Namun, rencana pembangunan Majapahit Park itu saat ini masih terganjal belum selesainya pembahasan draf nota kesepahaman antara pemerintah pusat dengan Pemprov Jatim dan Pemkab Mojokerto. Harapannya, draf nota kesepahaman ini segera dikeluarkan oleh pemerintah pusat supaya pelaksanaan pembangunan Majapahit Park memiliki payung hukum.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau