Demikian penegasan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, Rabu (20/4) di Jakarta, saat meninjau Pelabuhan Tanjung Priok. Bambang didampingi Direktur Kepala Kesatuan Pengamanan Laut dan Pantai (KPLP) Tanjung Priok Yudustar dan Adpel Tanjung Priok Susetyo Widayat Hadi.
Bambang mengatakan, tender diarahkan untuk pengerjaan tiga tahap terminal sekaligus. ”Hal ini dimaksudkan supaya lebih layak finansial buat investor. Di sisi lain, masa konsesi yang diperkirakan 30 tahun dihitung jadi 35 tahun,” katanya.
Terminal Kalibaru Utara tadinya akan dibangun dalam tiga tahap. Sebagai contoh, tahap pertama berupa pembangunan lapangan kontainer seluas 77 hektar berbiaya Rp 11 triliun termasuk pembangunan jembatan dengan bentang 700 meter.
Menurut Bambang, perusahaan perkapalan Perancis, CMA-CGM, yang memenangi tender Pelabuhan Batu Ampar, Batam, mengantongi konsesi 50 tahun. ”Jadi ada preseden mengenai konsesi pelabuhan hingga puluhan tahun,” ujarnya.
Perpanjangan konsesi juga memperhitungkan pembangunan jembatan dan alur yang direncanakan untuk diserahkan ke investor supaya lebih cepat selesai. ”Kami berharap anggaran negara dapat dialihkan ke pos lain dengan penghematan anggaran negara yang didapat bila memang investor mampu membangunnya,” kata Bambang.
Bambang mengatakan, pekan depan Menteri Perhubungan menandatangani pembentukan Tim Tender Proyek Kalibaru Utara, dan Tim Asistensi Tender. ”Tim Asistensi terdiri dari antarkementerian, antara lain Kementerian Koordinator Perekonomian, Bappenas, dan BPKP. Kami ingin tender cepat mendapat pemenang, dan terminal itu segera dibangun,” katanya.
Tanpa tahap I Terminal Kalibaru berkapasitas 1,9 juta juta setara 20 kaki unit (twenty foot equivalent units/TEUs), kapasitas Pelabuhan Tanjung Priok akan jenuh di tahun 2014. Di tahun itu, volume barang di Tanjung Priok akan mencapai 6,1-6,2 juta TEUs per tahun.
Anggota DPR Komisi V dari PDI-P, Nusyirwan Soejono, mengatakan, tender mutlak dikerjakan. ”Namun, saya berharap Pelindo II menang tender karena Tanjung Priok merupakan pelabuhan strategis,” katanya.
Nusyirwan mengatakan, andai pemenang tender Terminal Kalibaru adalah investor asing, Indonesia harus merelakan pelabuhan terpentingnya dikelola asing.