Hasil hutan

Pohon Induk Gaharu Berkurang

Kompas.com - 21/04/2011, 05:16 WIB

Pangkal Pinang, Kompas - Petani gaharu mengeluhkan pengurangan drastis pohon indukan di Kepulauan Bangka Belitung. Hal itu menyulitkan budidaya hasil hutan yang dapat dipanen tanpa merusak pohon tersebut.

Ketua Asosiasi Petani Gaharu Indonesia (Aspegindo) Kepulauan Bangka Belitung, Adi Saptono, mengatakan, pada akhir dekade 1990-an terdata sedikitnya 980 pohon indukan gaharu jenis Aquilaria malaccensis. Sekarang, tidak sampai 150 pohon indukan.

”Gaharu Bangka termasuk dihargai tinggi. Tetapi, potensi itu bisa hilang jika pohon indukan terus berkurang,” katanya di Pangkal Pinang, Rabu (20/4).

Pengurangan pohon indukan itu akan mengurangi pasokan dan kuota gaharu. Pengurangan kuota terjadi karena gaharu alam semakin langka, sehingga dimasukkan dalam apendix I Konvensi Internasional untuk Perdagangan Spesies Langka (CITES). ”Tahun 1997, kuota penjualan gaharu masih 270.000 kg. Tahun 2007, kuota tersisa 30.000 kg saja. Dengan harga mencapai Rp 15 juta per kilogram untuk kualitas bagus, pengurangan kuota itu berarti pengurangan pendapatan petani,” tuturnya.

Kematian pohon indukan antara lain disebabkan oleh kerusakaan dan alih fungsi hutan. Kerusakan dan alih fungsi itu terutama akibat perkebunan besar, penambangan, dan ladang berpindah. ”Sebagian petani gaharu juga salah memanen. Masih ada yang menebang dan memecah pohon untuk mengambil gaharu di bagian dalam kayu,” tuturnya.

Kerusakan pohon inang gaharu juga terjadi akibat hama ulat daun. Petani mencoba mengatasi dengan semut rangrang. (raz)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau