Manggarai juga menjadi salah satu sentra produksi kopi (Coffea sp
Komoditas kopi juga menjadi salah satu andalan ekspor hasil perkebunan. Kopi Manggarai menembus pasar internasional dengan harga tinggi karena mutunya yang baik. Tujuan ekspor kopi Indonesia di antaranya ke Amerika Serikat, Jerman, Australia, Jepang, juga negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Namun, kenyataannya, hasil kebun kopi di Manggarai, yang telah dimekarkan menjadi tiga kabupaten—Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur—itu kini kualitasnya cenderung tertinggal dibanding produksi perkebunan di kabupaten tetangganya, Ngada.
Kabupaten Manggarai Timur yang berbukit-bukit dengan ketinggian 1.100-1.300 meter di atas permukaan laut memang ideal untuk budidaya kopi. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Timur, luas lahan kebun kopi tahun 2010 tercatat 16.997 hektar (terluas di kawasan Manggarai) dengan produksi 5.289 ton.
Komposisi jenis kopi yang ditanam adalah kopi arabika seluas 3.790 hektar dan kopi robusta seluas 13.167 hektar. Setiap hektar kebun menghasilkan 500 kilogram kopi robusta dan 450 kilogram kopi arabika.
Dari enam kecamatan yang ada di Manggarai Timur, semuanya memiliki lahan kopi, areal terluas ada di Kecamatan Poco Ranaka, yaitu 2.365,65 hektar jenis robusta dan 885 hektar kopi arabika.
Adapun di Kabupaten Manggarai, menurut data dinas kehutanan dan perkebunan setempat, total areal kopi arabika tahun 2010 seluas 2.767,63 hektar, dengan tingkat produktivitas 367,53 kilogram per hektar. Tanaman kopi robusta seluas 4.261,65 hektar dengan produktivitas 353,89 kilogram per hektar. Sementara di Ngada yang total luas areal kebun kopinya hanya sekitar 2.883 hektar dengan produksi 2.242 ton (2009) justru tingkat produktivitasnya lebih tinggi, yaitu 777,80 kilogram per hektar.
Sekitar Juni 2010, petani kopi Ngada sudah mengajukan permohonan sertifikat Indikasi Geografis (IG) dengan nama Kopi Flores Bajawa kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Sertifikat ini merupakan salah satu persyaratan untuk dapat menembus pasar ekspor, selain sertifikat organik. Kopi di Flores, termasuk Manggarai dan Ngada, sejak dulu umumnya dikembangkan petani tanpa pupuk kimia.
Kopi dari Flores juga sudah masuk kategori spesialti (jenis arabika) yang telah mempunyai nama kuat di pasar internasional, terutama AS dan Eropa. Kopi Flores, seperti kopi Ngada maupun Manggarai, mempunyai cita rasa berbeda dibanding kopi dari daerah lain di Indonesia, bahkah mungkin juga di dunia, di antaranya keunikan rasa asamnya yang khas.
Sementara ini, kopi dari Manggarai masih dapat diikutsertakan dengan kopi Ngada untuk diekspor ke AS. Namun, apabila sertifikat IG untuk Kopi Flores Bajawa sudah keluar, kopi Manggarai tak dapat lagi dijadikan satu dengan kopi Ngada untuk diekspor.
Petani kopi di Manggarai seolah sudah jatuh dan tertimpa tangga pula. Sejak satu tahun terakhir, mereka menghadapi dampak cuaca ekstrem yang menyebabkan produksi kopi turun drastis. Curah hujan yang tinggi menyebabkan tanaman kopi tidak berbuah banyak, sementara harga kopi tak pasti, masih dipermainkan tengkulak.
Martina Ria, petani kopi di Dusun Biting, Desa Uluwae, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur, mengeluhkan merosotnya hasil panen kopi tahun ini akibat hujan deras yang terus mengguyur daerah itu. Tahun 2009, dia bisa memanen 12 karung (tiap karung berisi 35-50 kilogram). ”Tahun 2009 masih ada keringnya (tidak banyak hujan),” kata Martina, Rabu (6/4).
Produksi kopi di Manggarai banyak berkurang, sementara para petani butuh penghasilan untuk menopang hidup keluarga sehingga sebagian dari mereka terperangkap dalam sistem ijon. Mereka menjual kopi dengan harga sangat murah kepada para tengkulak.
Aloysius Pon, petani kopi dari Desa Colol, Kecamatan Poco Ranaka, Manggarai Timur, pernah menjual kopinya dengan harga hanya Rp 3.000-Rp 4.000 per kilogram kepada tengkulak. ”Padahal, harga normal kopi bisa sampai Rp 20.000 per kilogram,” kata Aloysius. Desa Colol yang merupakan pemekaran dari Desa Uluwae juga merupakan salah satu sentra kopi di Kecamatan Poco Ranaka.
Kepala Desa Colol Marselinus Subadir mengatakan, para petani biasanya melakukan ijon saat paceklik, yaitu antara Januari dan April. Pada bulan-bulan itu buah kopi belum dapat dipanen. ”Petani akan lebih aman kalau pemerintah bisa membeli hasil panen kopi mereka melalui koperasi sehingga ketika masa paceklik petani bisa meminjam di koperasi. Memang ada bantuan dari pemda untuk kelompok tani, tapi jumlahnya kecil, itu pun bergilir seperti arisan. Bayangkan, dalam satu desa cuma diberi Rp 100 juta, sementara di Colol saja ada 10 kelompok tani dengan jumlah anggota per kelompok 15 orang. Jadi, tiap kelompok tani hanya mendapat Rp 10 juta yang mesti dibagi untuk 15 orang,” kata Marselinus.
Akibat sistem ijon, petani memiliki sedikit kopi kualitas terbaik untuk dijual kepada eksportir. Permintaan pasar luar negeri pun tidak dapat dipenuhi.
Sebagai contoh PT Indokom Citra Persada, perusahaan eksportir kopi yang mulai menggarap kopi Flores sekitar tahun 2000-an. Ekspor terakhir tahun 2010 ke AS sebanyak 8.000 ton. Dari jumlah itu, kopi arabika dari Flores hanya 300-400 ton atau sekitar 4 persen. Nilai ekspornya sekitar Rp 8,5 miliar. Komoditas ekspor dari Flores itu pun sebagian besar dipasok dari Ngada.
”Kopi dari Manggarai yang kualitas ekspor jumlahnya sangat sedikit sehingga mesti digabung dengan Ngada. Padahal, permintaan dari luar negeri sangat besar. Saat ini, berapa pun kopi yang ada di Flores pasti akan terserap untuk pasar ekspor. Tinggal soal kualitas dan pengolahannya saja,” kata Kepala Cabang PT Indokom Citra Persada Manggarai Suherman di Ruteng.
Guna meningkatkan volume ekspor, khususnya dari Flores, pemerintah daerah perlu melakukan perluasan dan peremajaan tanaman kopi. Umumnya tanaman kopi di daerah ini sudah tua sehingga tingkat produktivitasnya sangat rendah. Suherman menyarankan agar petani berkonsentrasi pada sistem budidaya yang baik, terus melakukan perluasan kebun. Panen sebaiknya dilakukan pada buah kopi yang matang, lalu dikupas untuk diteruskan ke perusahaan.
”Biarlah kami yang memprosesnya lebih lanjut. Petani di Manggarai sering kali tak sabar sehingga penjemurannya kurang bagus, yang berakibat kadar air tinggi dan terkadang juga berjamur. Ini sangat disayangkan karena kopi Manggarai terkenal lebih dulu daripada kopi Bajawa,” ujar Suherman.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Timur Donatus Datur mengakui adanya persoalan teknis di lapangan yang memengaruhi tingkat produksi kopi. Persoalan terbesar adalah cara petani kopi memanfaatkan lahannya, juga banyaknya tanaman kopi yang sudah tua.
”Mereka tidak bisa membiarkan lahan kosong tanpa ditanami apa-apa. Itu sebabnya kebun kopi di Manggarai ini rasanya lebih pas disebut hutan kopi sebab banyak bercampur dengan tanaman budidaya lain. Peremajaan juga mesti dilakukan perlahan sebab umumnya petani angkatan tua tak mau kopi yang dulunya ditanam dengan susah payah ditebang dan diganti tanaman baru,” kata Donatus.
Menurut Donatus, Pemkab Manggarai Timur telah melakukan peremajaan dengan membagikan secara gratis bibit kopi ke semua wilayah sebanyak 17.500 anakan dan bantuan pemerintah pusat 118.000 anakan pada tahun 2010. Adapun tahun 2011 pemkab membagikan 140.000 anakan.
”Di antara pemda di wilayah Flores sudah ada usulan pembentukan kluster komoditas perkebunan, termasuk kluster kopi. Kami siap, apakah untuk kopi pintu utamanya di Labuan Bajo, Ruteng, atau Borong. Begitu pula untuk komoditas kemiri, kakao, kelapa, ataupun mete. Jadi volumenya akan lebih besar dan konteksnya adalah Flores, bukan lagi per kabupaten,” kata Donatus.
Persoalan kopi di Manggarai merupakan masalah serius jika tidak ingin semakin terpuruk dan menjadi kopi ”asal-asalan”. Terlebih seperti Manggarai Timur yang merupakan kabupaten baru (2007 terbentuk), tentu membutuhkan terobosan, keberanian, dan prioritas yang jelas dari pemerintah setempat.
Kalau berbicara Flores, kopi juga bisa dikembangkan bukan hanya di Ngada dan Manggarai, tetapi juga di kawasan Moni, Kabupaten Ende, dan Hokeng di Kabupaten Flores Timur yang merupakan daerah sangat potensial. Jika digarap dengan serius, bukan mustahil kopi Flores akan semakin besar dan berkibar....