Hari kartini

Para Kartini 'Angkong' dari Merapi...

Kompas.com - 21/04/2011, 21:21 WIB

MAGELANG, KOMPAS.com - Hari Kartini diperingati dengan cara unik oleh ibu-ibu korban banjir lahar dingin di Desa Sirahan Salam Magelang Jawa Tengah, Kamis (21/4/2011).

Tidak ada upacara, pakaian kebaya, peragaan busana atau lomba memasak. Namun, mereka justru berlomba mengumpulkan pasir untuk suami-suami mereka. Pasir-pasir yang sudah terkumpul itu selanjutnya dipakai membuat batako.

Para ibu yang sudah terbiasa membawa angkong (gerobak pasir kecil) sama sekali tak terlihat canggung ketika harus membawa angkong yang berisi pasir penuh. Tak terlihat pula raut kesedihan di wajah mereka, seolah lupa dengan kondisi rumah dan lahan pertanian mereka yang hancur diterjang banjir lahar dingin Merapi sejak Januari lalu.

Yang tampak justru keceriaan dan kekompakan antar sesama tim lomba. "Kami jadi semangat lagi, dan kami juga ingin sesemangat Raden Ajeng Kartini," kata Zumaro, salah satu peserta lomba Balap Angkong.

Heri Wahyudi, Koordinator kegiatan mengatakan, acara ini dilaksanakan untuk menggugah semangat para kaum ibu, agar lekas bangkit dari segala keterpurukan pasca bencana Merapi. "Kita hanya ingin menggugah hati ibu-ibu untuk bangkit lagi, semangat, seperti semangat Raden Ajeng Kartini. Hidup Raden Ajeng Kartini!," kata Heri disambut sorak sorai ibu-ibu.

Penyelenggra lomba juga menyediakan hadiah bagi para pemenang. Rp 100 ribu bagi juara pertama, Rp 75 ribu bagi juara kedua, dan Rp 50 ribu bagi pemenang ketiga. "Yang penting bukan hadiahnya, namun bagaimana semangat untuk tetap menjalani kehidupan kedepan ini yang jauh lebih penting," ujar Heri di sela kegiatan.

Sejak terjadi bencana banjir lahar dingin, kehidupan mereka berubah drastis. Sebelum bencana, sebagian besar mereka berprofesi sebagai petani dan penjaga warung kelontong. Namun sekarang terpaksa hidup di pengungsian dan tanpa pekerjaan. Sementara, anak-anak dan keluarga mereka harus tetap dihidupi.

"Kami mengharap ibu-ibu ini bangkit dari segala keterpurukan, terkena bencana lahar dingin, kita tidak hanya berkeluh kesah, dan kita juga tidak nglokro, kita harus maju, seperti majunya, cita-cita raden ajeng kartini," tegas Heri. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau