Pertempuran yang terbaru pecah selama beberapa jam pada Jumat (22/4) pagi. Bentrok senjata menewaskan sedikitnya enam prajurit dari kedua pihak. Aksi baku tembak terjadi di sekitar Candi Ta Moan dan Ta Krabei. Wilayah di sebelah timur laut Provinsi Surin, Thailand, ini menjadi titik sengketa kedua negara.
Pada Februari lalu, pertempuran mematikan juga terjadi di sekitar 150 kilometer arah barat daya dari lokasi kali ini, yang tidak jauh dari candi warisan sejarah dunia, Preah Vihear.
Korban tewas pada Februari lalu itu mencapai 11 prajurit dan sipil dari kedua pihak. Saat itu ribuan warga yang tinggal di wilayah perbatasan hengkang.
Dalam kejadian terbaru, kedua militer saling menyerang tidak saja dengan menggunakan senjata ringan, tetapi juga amunisi berat dan artileri.
Pihak Kamboja mengklaim peluru-peluru artileri yang ditembakkan militer Thailand
Juru bicara Angkatan Darat Thailand, Letkol Siriya Khuangsirikul, menyebutkan, korban jiwa di pihaknya terdiri dari 3 prajurit tewas dan 13 prajurit luka. Juru bicara militer Kamboja, Letjen Chhum Socheat, menghitung ada tiga prajuritnya yang tewas dan enam orang lainnya terluka.
Dalam pernyataan tertulis kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Menteri Luar Negeri Kamboja Hor Namhong menyatakan, insiden Jumat itu terjadi lantaran Thailand menolak keberadaan Indonesia sebagai pengamat di kawasan sengketa.
Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva kepada pers menyatakan, pihaknya akan menyelidiki penyebab insiden kali ini. Dia juga menyebutkan, situasi akan tetap dalam kondisi rentan mengingat masih ada pasukan militer dari kedua negara di lapangan.
”Saya ingatkan kembali, saat ini posisi pasukan kedua pihak berdekatan. Setiap pergerakan satu pihak bisa memicu bentrokan,” ujar Abhisit.
Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyatakan sudah mengontak Menlu Kamboja dan Thailand pada Jumat pagi begitu mendapat informasi tentang baku tembak itu.
”Meskipun kontak tembak kali ini terjadi di lokasi lain dari yang sebelumnya dipersengketakan, insiden itu sangat memprihatinkan dan mengecewakan. Sebelumnya kedua pihak sudah menyepakati gencatan senjata. Sekarang terjadi lagi aksi saling tembak,” ujar Marty.
Marty meminta kedua pihak segera menghentikan pertempuran dan menempuh jalan damai melalui upaya diplomasi. Menlu kembali mengingatkan semua pihak bahwa hubungan di antara negara-negara ASEAN masih rentan dalam konteks sengketa wilayah.
Marty mengatakan, masih bisa terjadi ketidaksinkronan antara proses diplomasi dan situasi di lapangan. Namun, semua pihak harus lebih mengedepankan langkah damai. Untuk itu ASEAN tetap siap membantu. Tahun ini Indonesia mengetuai ASEAN.
”Upaya penyelesaian masalah harus dimulai dengan itikad baik dan tekad politik kuat. Pada Februari lalu kita saksikan kedua negara sama-sama meminta ASEAN berperan. Mereka seharusnya konsisten dengan hal itu,” ujar Marty.
Terkait kehadiran Indonesia (pasukan TNI) sebagai pemantau yang ditempatkan di kedua sisi, Marty menjelaskan, kedua pihak sudah menerima hal itu.
Kedua negara pernah menggelar pertemuan di Bogor, Jawa Barat, dengan posisi Indonesia sebagai penengah pada 7-8 April 2011. Beberapa hari sebelum pertemuan itu sempat ada penolakan dari pihak Kementerian Pertahanan Thailand, yang tidak menginginkan keberadaan Indonesia sebagai penengah.