Tentara Baku Tembak

Kompas.com - 23/04/2011, 04:35 WIB

BANGKOK, JUMAT - Militer dua negara bertetangga anggota ASEAN, Kamboja dan Thailand, kembali terlibat baku tembak mematikan. Ini terkait dengan konflik perebutan kawasan di perbatasan kedua negara yang tidak kunjung selesai.

Pertempuran yang terbaru pecah selama beberapa jam pada Jumat (22/4) pagi. Bentrok senjata menewaskan sedikitnya enam prajurit dari kedua pihak. Aksi baku tembak terjadi di sekitar Candi Ta Moan dan Ta Krabei. Wilayah di sebelah timur laut Provinsi Surin, Thailand, ini menjadi titik sengketa kedua negara.

Pada Februari lalu, pertempuran mematikan juga terjadi di sekitar 150 kilometer arah barat daya dari lokasi kali ini, yang tidak jauh dari candi warisan sejarah dunia, Preah Vihear.

Korban tewas pada Februari lalu itu mencapai 11 prajurit dan sipil dari kedua pihak. Saat itu ribuan warga yang tinggal di wilayah perbatasan hengkang.

Dalam kejadian terbaru, kedua militer saling menyerang tidak saja dengan menggunakan senjata ringan, tetapi juga amunisi berat dan artileri.

Pihak Kamboja mengklaim peluru-peluru artileri yang ditembakkan militer Thailand bahkan menghujani sampai ke beberapa desa di luar lokasi konflik atau sampai radius 21 kilometer.

Juru bicara Angkatan Darat Thailand, Letkol Siriya Khuangsirikul, menyebutkan, korban jiwa di pihaknya terdiri dari 3 prajurit tewas dan 13 prajurit luka. Juru bicara militer Kamboja, Letjen Chhum Socheat, menghitung ada tiga prajuritnya yang tewas dan enam orang lainnya terluka.

Dalam pernyataan tertulis kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Menteri Luar Negeri Kamboja Hor Namhong menyatakan, insiden Jumat itu terjadi lantaran Thailand menolak keberadaan Indonesia sebagai pengamat di kawasan sengketa.

Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva kepada pers menyatakan, pihaknya akan menyelidiki penyebab insiden kali ini. Dia juga menyebutkan, situasi akan tetap dalam kondisi rentan mengingat masih ada pasukan militer dari kedua negara di lapangan.

”Saya ingatkan kembali, saat ini posisi pasukan kedua pihak berdekatan. Setiap pergerakan satu pihak bisa memicu bentrokan,” ujar Abhisit.

Menlu mengontak

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyatakan sudah mengontak Menlu Kamboja dan Thailand pada Jumat pagi begitu mendapat informasi tentang baku tembak itu.

”Meskipun kontak tembak kali ini terjadi di lokasi lain dari yang sebelumnya dipersengketakan, insiden itu sangat memprihatinkan dan mengecewakan. Sebelumnya kedua pihak sudah menyepakati gencatan senjata. Sekarang terjadi lagi aksi saling tembak,” ujar Marty.

Marty meminta kedua pihak segera menghentikan pertempuran dan menempuh jalan damai melalui upaya diplomasi. Menlu kembali mengingatkan semua pihak bahwa hubungan di antara negara-negara ASEAN masih rentan dalam konteks sengketa wilayah.

Marty mengatakan, masih bisa terjadi ketidaksinkronan antara proses diplomasi dan situasi di lapangan. Namun, semua pihak harus lebih mengedepankan langkah damai. Untuk itu ASEAN tetap siap membantu. Tahun ini Indonesia mengetuai ASEAN.

”Upaya penyelesaian masalah harus dimulai dengan itikad baik dan tekad politik kuat. Pada Februari lalu kita saksikan kedua negara sama-sama meminta ASEAN berperan. Mereka seharusnya konsisten dengan hal itu,” ujar Marty.

Terkait kehadiran Indonesia (pasukan TNI) sebagai pemantau yang ditempatkan di kedua sisi, Marty menjelaskan, kedua pihak sudah menerima hal itu. ”Langkah pengiriman tim peninjau itu memang salah satu bagian untuk memastikan kebijakan gencatan senjata dihormati,” ujar Marty.

Kedua negara pernah menggelar pertemuan di Bogor, Jawa Barat, dengan posisi Indonesia sebagai penengah pada 7-8 April 2011. Beberapa hari sebelum pertemuan itu sempat ada penolakan dari pihak Kementerian Pertahanan Thailand, yang tidak menginginkan keberadaan Indonesia sebagai penengah.

(REUTERS/AP/AFP/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau